Fun Writing

Horor Hore…


Sebulan lebih ditinggal Soson, Dina limbung.

Betah amat sih di kampung

            Entah sudah berapa kali kalimat yang sama ini terkirim ke hape Soson. Dina agak menyesal, kenapa dia tak pernah bertanya detil, di mana kampung teman karibnya itu. Pengetahuan geografinya buruk, nggak bisa bedain Purwakarta dan Purwokerto! Purbalingga dan Probolinggo! Beruntung ada Google Map yang bisa menunjukkan di mana Soson dilahirkan.

Dina hanya tahu, kalau Soson orang Klaten. Itu saja. Selainnya tidak ada keterangan lebih lanjut. Dina menyesal, kenapa dia tidak mengenali temannya sendiri. Dina lahir dan besar di Jakarta, tapi orangtuanya orang Cirebon dan Kuningan. Keluarga besarnya ya di kedua tempat itu. Jadi tempat-tempat yang dikenalinya, ya terbatas sekali. Jakarta, itu pun kalau di Pasar Kopro, Tanjung Duren masih sering nyasar, mau ke kios baju, malah ke tempat penitipan helm.

Dina tak tahu Klaten tempat kelahiran Soson berada. Padahal tempat lahir sahabatnya itu bertabur situs sejarah. Ada Candi Prambanan dengan kisah romantis tragis Bandung Bondowoso dan Roro Jonggrang. Atau Candi Plaosan yang dibangun oleh Rakai Pikatan untuk permaisurinya Pramudyawardani. Ehm…

Dina juga nggak tahu kalau dari Klaten menghasilkan tembakau bahan baku cerutu yang diekspor ke Jerman, Swiss dan Amerika. Tembakau Voorsternland namanya. Jadi kalau lihat film Hollywood ada bintangnya yang mengisap cerutu, jangan-jangan itu tembakaunya dari Klaten. Tempat tinggalnya Soson…

Dina masih menunggu jawaban sms, tapi tak segera terjawab juga. Sambil mengempaskan tubuhnya di sofa ruang tamu, ia meneruskan membaca buku lama, Misery karya Stephen King jilid satu. Buku yang didapatnya dari tukang buku dan majalah bekas di Perempatan Cileduk. Buku dua jilid yang masih bagus terbitan tahun 1993…

***

            Cerita dengan suspense yang tinggi membuatnya terus tegang. Rasanya ia capek dan terus deg-degan dengan cerita Misery. Tentang penulis yang bergelut dengan nyawanya, setelah kecelakaan yang dialaminya. Ternyata memiliki penggemar fanatik juga mengerikan. Tekanan demi tekanan dalam cerita itu memang terus berurutan. Sehingga membacanya membuat terus berdebar.

“Horor bukan selalu cerita tentang hantu, Din…” kata Rini, temannya yang kuliah sastra di Pejaten, Pasar Minggu. Universitas yang didirikan empu sastra Indonesia Sutan Takdir Alisyahbana. “Suspense yang terus menerus juga bisa jadi horor lho… klimaknya tak selesai-selesai, turun sedikit naik lagi konfliknya, terus begitu…”

“Gue nggak suka horor, Rin…”

“Takut ya?”

Dina tersenyum. Keduanya melangkah ke gerai waralaba bakso di foodcourt Blok M Square. Niatnya memang mau nonton film. Tapi kata Rini, nonton film horor Indonesia aneh, “Nggak serem, cuma ngagetin!”

“Sama ceweknya seksi-seksi ya…” sambung Dina.

“Sebenernya kalau kita mau agak repot dengan riset, kita bisa bikin cerita horor yang baik. Masuk akal, nggak mengada-ada, natural…” kata Rini sesudah duduk di salah satu pojok gerai waralaba bakso yang temboknya hijau dan krem belang-belang. “Kadang kita terburu-buru, nggak sabar…”

“Iya, yah… kayak gue nggak sabaran kalau lihat makanan udah di depan mata!” sahut Dina asal, konsetrasinya sudah buyar dengan semangkok baso petasan di hadapannya. Bakso petasan, itu bakso horor! Karena kita tidak bisa menduga, sepedas apa sambel yang terdapat dalam bulatan itu! Mengerikan…

Rini tertawa, Dina memang agak rada-rada kalau lapar. Meskipun ceplas-ceplosnya kadang ada benarnya juga. Tapi sesekali mengerikan juga. Kok? Lha, kuah bakso yang masih meruah panas dengan asap mengepul dan air mendidih, langsung disendok dan diseruput… Itu kan adegan mengerikan, horor! Dan Dina melakukannya dengan tarikan napas tertahan merasa aroma rempah kuah…

“Horor banget lu, Din. Itu kan panas…” Rini melongo terheran-heran.

Dina hanya tersenyum, dia nggak cerita ada yang lebih horor dari dia. Siapa lagi kalau bukan Soson. Dia bisa saja tiba-tiba mules hanya karena melihat harga di daftar menu dari makanan yang sudah ditelannya. Setelah itu dia bisa menghilang dengan cepat, membiarkan Dina sendirian di depan kasir. Lha kalau duitnya sampai…

Din, gue lg ngirit pulsa, duitnya ngepas buat balik k Jkt

Nah lho, sms Soson bikin suasana horor.  Wajah Dina pucat pasi seperti tanpa darah walau dahinya penuh keringat. Memandang wajah Rini, tiba-tiba teringat tokoh Annie Wilkes dalam Misery. Ketika melintas wajah Soson pun jadi sangat horor! Balik ke Jakarta dengan tangan kosong dan dompet kosong. Bener-bener horor level tinggi! Nekat juga sangat horor, pikir Dina gemetar, uang di dompetnya tinggal selembar.

“Gue aja yang bayar Din!”

Ah, ending yang manis, Dina tersenyum lebar. (Tef.)

 

*Kolom Fun Writing #6 dimuat Majalah Story, edisi 37 Sept-Okt 2012

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s