Sudut Pandang

Dengar Tuh Kata Dokter


Semula aku anggap biasa, ternyata tidak bisa. Selalu ada yang luar biasa, dan tidak biasa. Beda dari yang biasa, lebih dari biasa, atau tidak biasa-biasanya. Aku terbiasa berpikir sederhana, karena memang aku bukan orang yang bisa berpikir ndakik-ndakik (rumit dan tinggi). Dalam beberapa hal, memang hal ini menjadi senjata menyederhanakan masalah. Bahkan bisa mengeleminir, masalah menjadi semakin sedikit. Dan sesekali bisa menganulir, sebuah masalah menjadi bukan masalah.

Aku pikir semuanya akan baik-baik saja.
Ternyata, masalah kesehatan tak bisa aku anggap biasa, pun tak bisa aku sederhanakan. Semula aku anggap pusing biasa. Karena pusing itu biasa, sakit kepala aku sering. Seperti juga kelihatannya masuk angin, panas dingin, demam sesaat, hilang tak lama kemudian. Badan agak pegel linu, ah paling kecapean, bawa tidur juga nanti hilang.

Eh, ternyata…
Menganggap biasa, itu menjadi bumerang. Pusing yang kemudian menjadi sakit kepala, ternyata tak bisa lagi dihajar obat warung. Rasa lelah, lemas, dan tak bergairah… juga tak sepadan diganjar dengan tidur dan istrirahat yang panjang di akhir pekan. Dan panas dingin, demam yang biasa datang pergi itu, malah tak pergi-pergi.

Dokter itu senyum-senyum menyambut aku…
”Kayaknya, kita lebih sering ketemu ketika begini, daripada sehat ya…”
Aku tersenyum kecut, menurut saja di suruh buka mulut, dada aku di tempel-tempel stetoskop. Ingin sekali aku iseng, memegang ujung stetoskop itu lalu berteriak sekencang-kencangnya. Hehe… tapi aku tidak lakukan, walau dokter itu sudah menjadi langganan aku dan keluarga. Biasa, selanjutnya dia kasih tahu aku macam-macam termasuk nasihat. Selebihnya menulis resep, membuat surat izin, terus membuat surat pengantar ke lab.

Aku turuti semua… [kecuali istirahat!]

Dokter itu tak tersenyum melihat aku datang lagi minggu berikutnya.
”Kan sudah dibilang, istirahat… jangan pecicilan… bandel sih!” Aku pasrah saja, terserah lah, aku mengaku salah. ”Atau diopname saja, biar nggak ke mana-mana!” Ups, mengancam dia. Dia marah-marah (aku yakin sih pura-pura), karena aku tahu dia bukan pemarah. Dia baik, kalau ke luar kota atau ke luar negeri aku selalu kebagian oleh-olehnya. Dan dia tahu persis, aku ’pasti’ tidak mau diopname!

Akhir kata, semua diperiksa… dan obatnya ditambahi. Huh, obat lagi….
Aku terpaksa mengaku, beberapa kali ’nakal’ berkeliaran saat seharusnya beristirahat total. Alasannya, sudah terlanjur janji dan menyanggupi. Memang ada beberapa acara yang banyak menguras tenaga dan pikiran waktu itu. Jadi ketika seharusnya aku sehat dan segar bugar ketika waktunya bekerja, aku malah letoy…
Ya sudah ambruk lagi.

Ternyata, penyakit tidak bisa dianggap biasa, dan tidak bisa disederhanakan. Sudahlah, banyak hikmahnya. Setidaknya buat aku, agar menjaga kesehatan dengan baik. Selain menurut kata-kata orangtua, ternyata aku juga harus menurut kata-kata dokter… Dan aku sudah bilang sama istriku, agar guru-guru di TK-nya mengajari itu, denger tuh…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s