Story & History

Terima Kasih, Masalah…


Hidup ini banyak sekali masalah, satu masalah datang, menyusul dua tiga masalah kemudian. Satu masalah belum selesai, yang lain menuntut segera diselesaikan. “Tidak pake lama!” Begitu istilahnya. Sehingga hidup ini rumit betul tampaknya. Hidup ini menjadi sumber penyakit, dari pusing, mules, perih, kembung… ada semua.

Tapi benarkah hidup serumit itu? Betulkan masalah sebanyak itu?

Ada teman yang kelihatannya rumit sekali. Apa saja menjadi masalah. Bahkan kadang menambahi masalah orang lain. Membuat orang sekelilingnya menjadi terlibat dalam masalahnya. Ada ya orang seperti itu?Ada, satu atau dua? Banyak! Kok banyak? Ya… banyak yang nggak suka maksudnya. Masalah sendiri saja sudah repot kok masih ditambahi masalah.

Mengatasi masalah tanpa masalah, –maaf sebagai penggemar PGD alias pegadaian– saya terpesona benar dengan kalimat itu. Rupanya, filosofi itu, mengatasi masalah tanpa masalah, sudah lebih dulu dikunyah orangtua saya, kemudian dijejalkan ke mulut saya. Meski mau muntah, tapi rupanya nilai itu benar-benar membuat saya ‘mendem’ alias mabuk dengan cekokan itu.

Akibatnya, pertama saya punya keyakinan ndak ada masalah yang tak selesai, bahasa agamanya, setiap masalah ada jalan keluarnya dan sesudah kesulitan ada kemudahan. Kedua saya berusaha menyederhanakan semua masalah dengan mencari akar masalahnya, ketiga saya berusaha tidak mau terjebak dalam masalah, tapi harus keluar mencari solusinya, keempat jangan nambahi masalah orang lain dengan hal sepele yang bisa kita tangani sendiri. Misalnya, kalau perut kita mules sampai mlintir-mintir, ya jangan ke masjid atau ke pasar kemudian pengumuman kepada semua orang. Cukuplah ke kamar kecil dan selesaikan persoalan itu di sana. Selesai!

Itu saja? Tidak!

Ada efek dahsyat dari cekokan itu, saya justru bermasalah sendiri. Masalah yang sangat akut. Saya seperti minum jamu nafsu makan. Sehingga, setiap ada masalah, solusinya seringkali selesai dengan makan. Kadang makannya sudah selesai, masalahnya belum selesai. Sehingga, teman-teman saya senang sekali kalau saya punya masalah, karena pasti bakalan ngajak makan, hehe…

Untungnya, sebagai orang yang tidak terlalu berpenghasilan ‘besar’ meski bertubuh besar. Saya terbiasa menyederhanakan masalah. Sesederhana cara berpikir saya yang ala kadarnya, ndak muluk-muluk, apalagi kapasitas saya yang tidak pintar walau tidak bodoh. Jadi kadang yang kelihatannya masalah ternyata bukan masalah. Tampaknya masalah besar, ternyata hanya kecil saja. Dan tentu saja hal ini menguntungkan saya. Daripada membesar-besarkan masalah, mendingan membesarkan penghasilan dan memperluas pekarangan…

Saya jadi jarang bergaul dengan masalah. Berkurangkah nafsu makan saya?

Hehe… ternyata tidak!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s