Fun Writing

Cintaku Tertinggal di Pasar


Ngomongin soal jatuh cinta, sebenarnya nggak ada enak-enaknya. Kalau nggak pahit ya… asem. Kalau nggak bau keringetnya yang (pasti) asem, ya… mukanya asem. Abis ketemunya sama cewek-cewek di pasar, yang waktu pergi belanja baru sempet cuci muka. Otomatis bau deodorannya ya meneketehe…

Udah gitu, bawaannya buru-buru, duit belanja ngepas, trus kudu siap saji dalam lima belas menit berikutnya. Yah, makin asem aja tuh muka. Sekitar satu atau dua kilo meter dari tempat tinggalku, tersebutlah Pasar Bengkok! Pasar yang sangat legendaris bagi orang sekitaran Cileduk. Apa dan dimana ‘bengkok’-nya nanti dibahas lain kali.

Letaknya strategis, sehingga disarankan bagi pengendara mobil, sepeda motor dan khususnya ambulance yang membawa ibu mau melahirkan untuk tidak melewati Pasar Bengkok pada jam sibuk. Karena dipastikan terjebak macet. Daripada mengakibatkan persalinan di jalan, mendingan cari jalan lain. Kasihan nanti kalau anaknya lahir, orang-orang bilangnya nggak enak, “Oh itu, yang lahirnya di jalan!” “Bukan di jalan tapi di pasar!” “Salah semua, yang bener di jalan tengah pasar!”

Nah, lho! Biasalah, pedagang selalu kurang lebar lapaknya. Kemudian pembelinya juga lebih suka berkerumun daripada antri. Lihat tukang obat sulapan dirubung. Anak penjual tempe main tambur, ditonton. Apalagi kalau ada aksi topeng monyet, pasti makin macet saja jalanan. Namanya juga pasar….

Cintaku tertinggal di pasar.

“Emangnya belanjaan…!”

Yah, namanya juga cinta, jatuhnya nggak lihat-lihat lagi. Bisa pada pandangan pertama, bisa juga karena pertama melihat pemandangan. Kan biasanya lihat papan tulis! Namanya juga anak sekolah. Kalau ngliatin gurunya dikirain nantangin, ujungnya malah disetrap.

Dulu banget, saudaraku yang lama di Arab (jadi TKW) bilang, “Kalau mau liat aslinya cewek, di pasar! Belum mandi, belum pakai make up! Pokoknya original deh!” Maklum sekarang kan ada aja cewek gadungan. Ngakunya original, langsung dari pabrikan, eh ternyata imitasi. Ternyata, bukan tukang catat meteran listrik aja yang gadungan ya! Jadi teliti, boleh kan…

Nah resep itu ternyata benar! Benar-benar menyesatkan. Bukannya dapat cewek-cewek yang original, tapi malah dipelototin ibu-ibu dan nenek-nenek yang jelas tak original. Hari gini, mana ada cewek mau belanja di pasar. Kalaupun mau juga belanjanya di mal! Gampang, harganya jelas, nggak pakai tawar menawar, trus adem dan bersih.

Tapi, di balik keruwetan pasti ada kebeningan. Cewek bening itu – beningnya kinclong deh, ngalahin beningnya air mineral dari sumber mata air gunung manapun!- namanya Melati. Tiap pagi di jam yang sama saat aku nganterin ibu belanja, dia pasti ada di sana. Sama-sama nganterin belanja ibunya. Sama-sama parkir motor di depan tukang fotokopian yang belum buka. Paling nggak, kita berdua sama-sama anak yang shaleh. Karena berbakti mengantarkan ibu belanja pagi-pagi ke pasar. Bukannya jodoh itu sekufu? Dia shalehah. Aku shaleh lah… kalau ‘hah’ kan bau! Biarpun cuma lulusan pesantren kilat, tahulah beda shalehah dan shaleh. Dia nganter ibunya, aku juga nganter ibuku.

Semakin dicari persamaannya semakin banyak lagi ditemui. Sepeda motor mereknya sama, standarnya juga miring. Dia pakai jaket, sama juga. Bedanya dia pakai jaket kampus, aku pakai jaket dari dealer tempat kredit motor. Namanya juga jatuh cinta, yang dipikirin ya… yang sama-sama aja.

Sekali dua kali, cuma saling lempar senyum. Selanjutnya saling sapa, tentu saja aku duluan yang tanya. Anggaplah sebagai praktik kuliah jurnalistikku. Sekalian membuktikan pepatah, malu bertanya tak jadi kenal. Mau bertanya, salaman kemudian.

Uhuy… jadilah waktu ibuku dan ibunya sibuk memilih sayuran dan adu urat menawar hingga nyaris rusuh, aku dan Melati malah sering tertawa cekikikan. “Kamu lucu…” tangannya menutup mulut. Malu atau takut bau jigong belum sikat gigi! Atau jangan-jangan giginya hitam atau ompong?

Singkat cerita, nganterin belanja jadi menyenangkan meski harus rela bangun pagi-pagi. Biarpun ibu nggak belanja aku paksa suruh belanja. Kalau nggak mau juga aku pergi sendiri aja. Hingga mau nggak mau, demi anak semata wayangnya, ibuku mengalah. Meskipun hanya membeli garam dan terasi. Betapa senang hatiku…

Pagi yang indah, belum tentu siangnya cerah. Aku dan Melati memang menjadi sahabat pagi. Tapi saat siang menjelang, Melati adalah perempuan terpuji yang harus terus tersenyum menjadi kasir kedai makanan ibunya. Perempuan perkasa yang harus membiayai Melati dan adik-adiknya sepeninggal bapaknya. Lelaki yang menghadap Khalik-Nya dalam kejamnya lalu lintas Jakarta. Melati menjadi yatim dan harus memupus cita-cita kuliahnya demi adik-adiknya. Melati cukup dengan lulus diploma satu saja dan harus menjadi teman ibunya, perempuan yang ternyata mengidap kanker rahim di tubuhnya. Sehingga pahamlah aku, betapa mahal senyumnya. Betapa pelit tawanya. Walau demikianlah semestinya perempuan shalehah tersenyum dan tertawa.

Saat aku jatuh cinta padanya, saat itu Melati justru menjatuhkan pilihan yang pahit. Meninggalkan semua, pergi bersama keluarganya. Membawa harapan, semoga ada perubahan masa depan di kampung ibunya. Aku merasa menyesal, kehadiranku tak memberikannya harapan apa-apa baginya. Tak bisa membantu apa-apa, kecuali membuatnya tertawa. Itu saja! Mungkin dia juga kecewa. Meskipun belum tentu benar prasangkaku. Melati memang pergi. Karena memang dia harus pergi. Melati tak lagi menjadi sahabat pagi. Karena dia harus menyongsong hari. Tak hanya pagi. Tapi menyiasati hidup dalam waktu yang panjang, dalam siang, senja dan malam.

Dia pergi, meninggalkan pagi. Meninggalkan kenangan. Meninggalkan aku. Tapi ia meninggalkan cintanya, untukku. Ya, dia meninggalkan cintanya padaku pada suatu pagi di pasar! Dan aku memeliharanya. Tak pernah lagi aku memarkir sepeda motorku dengan standar miring, tak pernah lagi pakai jaket dari dealer dan tak pernah lagi aku melihat Melati. Ya iya lah….

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s