Fun Writing

Ditolak Calon Mertua


“Gue ditanyain sama Bu Mahfud, sebenernya lu kerjanya apaan…” temanku, Azrul yang biasa dipanggil Alul tertawa.

“Lu jawab apaan…” aku penasaran.

“Jadi hantu….” Alul tergelak, sampai saung tempat kami duduk berasa bergoyang. Terlihat dari kopi di gelasnya yang bergelombang kecil. Aku ikut tergelak.

“Gila lu ah…” sahutku menyela tawanya.

“Trus gue mesti jawab apa dong? Lu kan hantu…” Alul tergelak lagi.

Aku tersenyum, “Bisa aja lu, ah!”

Bu Mahfud itu ibunya Nia, perempuan cantik yang sedang kutaksir. Eh, sudah lewat sih masa menaksirnya. Sedang pedekate, pendekatan! Tapi juga sudah lewat kayaknya, tepatnya sedang aku jatuh cintai. Dan Nia juga bersedia. Karena dia tak berat hati pergi bersama, makan atau nonton film. Bahkan menemaniku duduk ngobrol di teras rumahnya. Membuatkanku teh dan mengeluarkan makanan kecil, hingga seolah-olah aku menafsirinya sebagai sinyal, “Jangan buru-buru, aku masih senang mengobrol denganmu!”

Nia itu cantik, mahasiswa semester akhir fakultas ekonomi di sebuah universitas keren di Jakarta Barat. Rumahnya dekat, ya beda blok saja. Itulah yang menyebabkan aku kenal dengan Nia. Kalau mau berangkat kuliah pasti lewat depan rumahku. Kalau pulang ya kadang lewat, kadang tidak, karena dia memilih jalan lain. Maksudnya tahu kan, kenapa berangkatnya saja lewat depan rumahku, ya itu tanda… “Aku menunggumu di gerbang komplek!” Ahai, hanya orang-orang pintar yang mampu membaca sinyal itu.

Walhasil, dia lulus kuliah, dan aku masih kerja sambil kuliah. Sebagai orangtua mungkin Bu Mahfud perlu ketegasan. Ingin punya mantu yang sehat lahir batin, gagah jasmani dan ruhaninya, kuat iman dan tebal uangnya. Dan itulah, yang tidak kumiliki. Sehatku hanya lahir saja, batinnya tertekan oleh detlen dan detlen. Gagah sih gagah, tapi ruhaniku hancur lebur, hapalan doaku pendek, langkah ke mesjidku jarang. Boro-boro kuat iman, lha masih pacaran tak bisa menundukkan pandangan. Nah yang paling parah adalah tak tebal uangnya. Walau aku bisa traktir anaknya nonton dan makan…

Ya wajar kalau dia bertanya pada Alul, sahabat dekatku. Apa pekerjaanku. Konyolnya dia jawab aku hantu. Ya tidak salah, karena aku memang jadi hantu. Hantu menulis atau penulis hantu. Istilah kerennya, ghost writer. Menulis untuk orang. Menulis atas order orang lain. Menulis apa saja, ya artikel, ya naskah buku. Itu yang membuat saya punya uang dan bisa menraktir Nia kekasihku itu. Nia tampak bahagia, setidaknya kalau sedang kutraktir, jalan-jalan, atau sekadar ngobrol di teras rumahnya. Tapi itu justru membuat gusar ibunya…

Menjadi penulis saja dianggap pekerjaan tidak wajar, asing, dan sulit direkonstruksi pekerjaan sejenis makhluk apa. Lha apalagi ghost writer, penulis hantu. Makin abstrak dan tak tergambarlah bentuknya dalam benak orangtua Nia. Orangtua berpikir panjang, anaknya yang cantik nian, tak rela ia lepaskan untuk laki-laki yang kerjaannya tak jelas dan tidak terbayangkan.

Singkat cerita, Nia ‘kelihatannya’ bahagia dengan pilihan ibunya sekarang. Karena aku masih sering melihat senyumnya ketika berpapasan di jalan. Senyum yang dulu hanya untukku, halaaaah…

Iklan

Satu tanggapan untuk “Ditolak Calon Mertua”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s