FUN Institute

Sembako Buku Mas Gong


tbm IqraSabtu pagi, seperti biasa tugas pertamaku adalah mengantar istri yang sedang gemar sekolah lagi. Seperti pagi itu, aku dan istri sudah meniti jalanan dengan motor matic yang warnanya putih cantik.

“Minggir sebentar, Mas…” istriku menepuk bahu.

“Kenapa, ada yang ketinggalan?” sahut saja sambil meminggirkan motor.

Sambil mengutak-atik bb-nya, wajahnya saya tengok…

“Mas Gong mau ke rumah…” katanya, “Ini Mbak Tias kasih tahu, sekarang udah di tol Karawaci.”

“Kita balik…” aku mengambil posisi siap menyebrang.

“Aku? Gimana?” tanyanya bimbang, mau lanjut apa pulang.

“Udah pulang aja, sekolah kan bisa besok lagi!” jawabku sambil mengarahkan motor, menyeberang dan kembali ke rumah. Beberapa orang yang berpapasan di jalan menyapa, mungkin mereka pikir ada yang tertinggal. Karena belum lama pergi sudah balik lagi. Begitulah praduga, bisa berupa apa saja…

“Kok balik, Om…” tanya keponakanku sambil ‘beberes’ vespa tuanya.

“Iya, Mas Gong mau ke sini…” sahut istriku mendahului.

“Oo… Mas Gong? Gol A Gong?” tanya ponakanku yang gondrong.

“Iya,” sahutku.

Tak lama, istriku keluar, “Sudah di Alam Sutra, Mas. Nih, tolong arahnya dikasih tahu,” katanya sambil memberikan bb-nya padaku. Aku langsung ambil inisiatif, untuk menjemput di gerbang komplek.

***

            “Wuih, enak nih tempatnya…” kata Mas Gong.

Saya mengantarkan Mas Gong sambil berbincang. Dia lihat koleksi buku Rumah Baca IQRA di lantai bawah, lalu lihat juga ruang kelas menulis FUN Institute di ruang atas. Ruang seluas 6×3 meter yang dilengkapi dengan komputer dan whiteboard serta kursi-kursi lipat.

“Berapa orang yang belajar di sini?” tanya Mas Gong

“Tiap program kita batasi sepuluh orang…” jawab saya.

“Programnya apa aja?”

“Cerpen, Novel, Jurnalistik, ya seperti kelas menulis Rumah Dunia,” aku melihat Mbak Tias dan istri saya menyusul ke atas.

Lalu kami ke saung, namun sebelumnya berfoto dulu, Mas Gong menyerahkan Sembako Buku dalam rangka Program Sedekah Buku untuk Indonesia ke Rumah Baca IQRA. Setelah upacara serah-serahan selesai, berlanjut ke saung. Menikmati teh hangat dan kue lebaran. Kami berbincang panjang, soal literasi, soal buku, soal pemberdayaan masyarakat yang bisa kita lakukan dan hal-hal lainnya.

“Nanti yang bisa kita kerjasamakan, kita kerja sama Fan…” katanya.

“Siap Mas…” sahut saya cepat.

Mas Gong juga berbagi pengalamannya mengelola Rumah Dunia. Bagaimana kerja batinnya yang tidak kalah keras dengan kerja lahir dan pikirnya. Saya sekali lagi menangkap aura gerak yang menggerakan dari Mas Gong. Membuat saya merasa disulut sumbunya agar bergerak terus, terus bergerak, lebih cepat dan lebih lekas.

“Terima kasih, Mas…” beberapa kali, kalimat ini saya sampaikan. Semoga Rumah Baca IQRA bisa tumbuh menjadi oase kebaikan dan kelebihbaikan bersama.

Iklan

2 tanggapan untuk “Sembako Buku Mas Gong”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s