Story & History

Mudik


Saya orang Jawa, istri saya orang Jawa, tapi tidak punya mudik!

Kok bisa?

Karena sampai akhir hayat orangtua saya setahun lalu, saya tinggal di Jakarta dan hanya bergeser ke Jakarta dan sekitarnya. Ke Depok, ke Cileduk… Saya sekolah, kuliah, bekerja, dan menikah serta menikmati rumah tangga di Jakarta. Lebaran? Ya di Jakarta. Menikmati lengangnya Jakarta, menikmati sepinya Jakarta, dan menikmati susahnya cari air galon dan isi ulang karena penjualnya mudik.

Bertahun-tahun saya merasakan begitu, tidak punya mudik. Walaupun saya sudah menikah. Karena mertua saya keduanya sudah almarhum dan keluarga istri pun lebih banyak di Jakarta. Lengkaplah syarat saya tidak mudik. Saya hanya bisa melihat keramaian orang mudik di tivi, seliweran mobil dan sepeda motor di jalan. Dan yang paling mengenaskan, karena tahu tidak akan kemana-mana saat lebaran, maka beberapa tetangga bertamu dan bilang, “Titip rumah ya, Mas…”

Hmm…

Pernah suatu kali, saya ‘ngebet’ ingin sekali ikutan mudik. Saya tergoda untuk merasakan bagaimana naik sepeda motor sepanjang Pantura. Apalagi cerita tentang mudik dengan sepeda motor selalu seru. Maka tanpa seizing orang rumah, saya nekad ‘mudik’ dengan sepeda motor selepas shalat subuh. Tujuannya? Wis yang penting maju…

Maka subuh itu saya menikmati naik motor menyusuri jalur mudik. Benar saja, tidak lama saya keluar dari rumah. Di jalan saya sudah bertemu dengan pemudik bermotor. Cirinya jelas sekali dan mudah dikenali. Saya pun mengikuti. Terus, makin lama, saya semakin banyak bertemu dengan pemudik motor. Terus dan hampir satu jam perjalanan, saya tiba di perempatan Kali Malang…

Sudah tak terhitung lagi jumlah sepeda motor pemudik!

Dari segala arah, sepeda motor terlihat hanya satu tujuan. Mudik melalu jalur Pantura. Saya hanya bisa menggeleng-geleng kepala, ratusan bahkan ribuan kilometer akan ditempuh dengan cara yang ‘luar biasa’. Agak miris juga melihat anak-anak balita harus berdesakan di jok motor yang kapasitasnya hanya untuk dua orang dewasa. Saya hanya bisa membuka kaca helm dan melempar senyum kepada mereka…

“Tindak pundi Pak?” tanyaku sok Jawa.

“Lamongan…” sahutnya.

Dengan pertanyaan yang sama saya bertanya pada pengendara yang lain. Jawabannya bikin saya ngeri. Sebutlah semua kabupaten dan kota di sepanjang Pantura, ada semua. Ada yang ke Tegal, Pemalang, Pekalongan, Batang, Kendal, Semarang… dan kota sepanjang Pantura berikutnya. Saya tahu kota-kota itu, saya pernah melewatinya, beberapa malah sempat mampir dan mengunjunginya. Tapi tidak dengan cara ini. Naik sepeda motor…

Saya terus mengikuti jalur mudik hingga masuk ke wilayah Karawang. Saya geli sendiri, mau kemana sebenarnya ini. Hanya memuaskan rasa penasaran mudik pakai sepeda motor, sampai nekad begini. Menjelang Cibitung saya ditelepon dari rumah. Kebayang kagetnya orang serumah ketika saya bilang sedang mudik, hehe. Dikira saya pergi biasa saja, ada urusan kerjaan atau silaturahmi ke rumah teman saja. Pagi-pagi sudah jalan…

“Apa? Di Cibitung?” tanya istri saya kaget.

“Iya nih, rame-rame…”

“Sama siapa?”

“Sama orang-orang yang pada mudik lah…” sahut saya sambil cengengesan.

“Emang kamu mau mudik kemana?” kali ini suara mendiang Ibu saya.

“Cuma pengen ngrasain aja, Mam…” sahut saya.

“Udah, pulang…” pinta Ibu saya.

Saya iyakan. Tapi saya lanjutkan juga beberapa kilometer lagi, tanggung! Walhasil saya kembali ke rumah setelah sepagian, hampir lima jam ‘motoran’. Sampai rumah semua orang pasang wajah nano-nano. Saya cukup menarik pipi, senyum untuk mengubah wajah itu menjadi tawa.

“Nggak segitunya kali…” canda istri saya.

Yah, setidaknya saya pernah mencoba mudik, walau tak pernah sampai. Tapi saya menikmati kok tidak punya mudik. Saya bisa mudik ke mana suka. Setiap lebaran punya tujuan mudik berbeda. Tanpa beban bisa mencoba shalat ied di berbagai mesjid di Jakarta dan sekitarnya. Dan setelah selesai bersilaturahmi dengan tetangga rumah dan pinisepuh di hari pertama. Hari kedua biasanya saya dan keluarga mudik ke mana maunya…

Jadi mudik lebaran selalu berbeda. Bisa di Bandung, bisa di Cirebon, bisa di Anyer, ah… tempat mudik itu banyak sekali. Lebaran tahun ini mudik kemana? Belum kepikiran, jalani puasa ramadhan dulu dengan baik dan benar. Mungkin itulah mudik sebenarnya. Bila mudik itu dimaknai pulang kampung, kelihatannya, saya harus pulang ke ramadhan yang Mubarak itu. Saya merasa terlalu jauh pergi setiap hari, hanya di ramadhan saya merasa kembali…

Mungkin saya belum terlalu shaleh, sehingga saya butuh ramadhan untuk kembali. Mudik yang sejatinya. Soal mudik yang lain, pulang kampung, mungkin saya harus cari alasannya. Paling tidak membobotinya dalam rangka silaturahmi tanpa harus menunggu lebaran…

Walau sesungguhnya ingin sekali ikutan mudik. Hiks…

 

*pernah dimuat oleh Majalah Embun

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s