FUN Institute

Rumah Baca IQRA & Pesan Itu


“Di mana pun kamu, buatlah sesuatu yang berguna buat sekitarmu.”

Kenapa saya membuka rumah baca, karena ada kata-kata itu. Dan yang mengatakan itu adalah Gol A Gong pada kesempatan duduk berdua pada suatu sore beberapa tahun lalu di Rumah Dunia. Saya terus mengingatnya dan berusaha mewujudkannya. “Walaupun itu kecil…”

Saya mengalami keberuntungan, orangtua saya cukup bijak dengan memberikan teman berupa buku ketika saya kecil dan tumbuh. Selain teman bermain lainnya, ya layangan, sepeda bmx, burung dara, dan ikan cupang…

Dulu teman-teman saya sering ke rumah untuk ikut bermain dengan koleksi mainan saya, pun membaca buku-buku atau majalah saya. Ya silakan saja, saya malah senang. Ibu saya juga senang, karena anaknya tidak keluyuran. Walaupun saya yang mudah bosan, sering kali mengganggu keasyikan teman saya dengan mengajak main layangan atau main burung dara balap.

Maka ketika punya kesempatan, saya pun tetap ingin membagi keberuntungan yang saya miliki. Saya menurunkan koleksi buku-buku saya, baik komik, buku-buku lain, baik novel maupun buku nonfiksi dan pengetahuan popular, termasuk majalahnya. Maka jadilah sebuah rumah baca yang dilengkapi dengan rak dan ruang membacanya.

Sejak menikah, setidaknya rumah baca ini menjadi hal tak terpisahkan. Dulu saya memberikan teras rumah kontrakan saya untuk menggelar koleksi buku-buku itu. Lumayan ramai kalau sedang bulan puasa, apalagi rumah itu dekat masjid. Pintu gerbang rumah tidak pernah saya kunci, silakan saja siapa yang mau datang baca.

Hilang? Atau dipinjam tapi tidak kembali?

Itu biasa banget! Yah, biarlah saya dianggap bodoh karena meminjamkan buku. Walaupun saya berharap buku itu kembali, karena bisa gantian membaca sama yang lain. Daripada buku itu nganggur, dibaca nggak, didiamkan saja di rak atau malah di tempat yang tidak layak. Memberi kesempatan pada yang lain untuk membaca, kan nanti kita bisa tahu bersama-sama, dan kalau diskusi kita enak nyambungnya.

rumah bacaRumah Baca IQRA, begitu saya menamainya…

Saya juga sempat menyewa kios di sekitar komplek tinggal saya. Silakan baca di tempat. Tapi kalau mau dibawa pulang ya bayar, murah saja. Buat jaminan bahwa buku itu balik. Walaupun begitu, tetap saja banyak buku nggak balik… saya berpikir positif, mungkin belum selesai membaca, atau sedang dibaca ulang saking bagusnya itu buku.

Saya sempat juga frustrasi, semakin banyak buku yang hilang, tidak kembali. Dikira saya membagi-bagi buku gratis kali ya dengan membaca rumah baca. Akhirnya, ketika saya pindah ke rumah sendiri, buku-buku dan rak-raknya yang di kios, dihibahkan kepada teman untuk menjadi rumah baca baru di sekitar Depok.

Kini, setelah punya rumah sendiri, punya tempat sendiri yang lebih layak, kembali saya menurunkan buku-buku saya. Dan setelah saya mendirikan sekolah menulis FUN Institute, rumah baca itu dalam pengelolaan yang lebih baik, terintegrasi. Saya buatkan tempat yang nyaman untuk membaca, suasana yang menyenangkan untuk diskusi dan pilihan bacaan yang semakin beragam.

Alhamdulillah, Mas Gol A Gong sebagai Ketua Umum Forum Taman Bacaan Masyarakat se-Indonesia berkenan datang, memberi spirit dan menyumbangkan buku dalam program Sembako Buku yang sedang digulirkan. “Tempatnya enak…” katanya sambil menikmati air mancur, teh hangat dan kue lebaran…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s