Story & History

Mengayun Langkah #1


Saya harus berterimakasih kepada mendiang ibu, karena beliaulah yang terus mengawal saya sampai sedemikian rupa. Diskusi dan pembicaraan sederhana di berbagai ruang, telah menyatukan pandangan dan mengalirkan kesepakatan dari sebuah kasih sayang. “Sudahlah, kamu jangan terlalu capek di jalanan…”

Maka, menabunglah kami… saya dan ibu saya.

Mengurutkan langkah, sepakat yang indah. ”Biar kamu punya waktu untuk Ibu…” katanya. Ya, keseharian saya nyaris habis di jalan dan tempat bekerja. Saya sebenarnya orang yang lebih suka di rumah. Pernah juga bekerja di rumah, walau harus kalah dengan ’cibiran’ dan kalimat yang terus mendera tidak mengenakan telinga. Bukan saja telinga saya yang bebal, tapi telinga orang-orang rumah yang sangat saya cintai.

”Di rumah aja, kok punya duit…”

”Miara tuyul kali…”

Istighfar, istighfar… itu saja yang saya lakukan. Beriring dengan doa mendiang Ibu saya yang terus melangit siang dan malam. Sampai harus melakukan hal konyol, berpura-pura kerja di luar, asal keluar dari rumah, untuk kemudian pulang ketika agak sore, padahal di luar hanya main-main saja.

Mereka tidak tahu, saya nyaris tak pernah tidur!

Bekerja ketika orang-orang baru pulang kerja, asyik menonton televisi atau bercengkerama dengan keluarga. Terus duduk, mengetik dan melewati angka demi angka di jam dinding. Terus mendengar dentingan suara tiang telepon dipukul tukang ronda sebagai penanda waktu. Terus menjadi saksi pergantian hari, karena mata masih menyalak ketika dini hari berganti. Hingga azan subuh menghentikan semuanya. Bergegas shalat, kemudian melanjutkan lagi pekerjaan bila belum selesai, membereskan saja, dan baru berangkat tidur setelah orang serumah terbangun.

Saya bangun ketika sarapan sudah siap. Keluarga saya memiliki tradisi baik, sarapan dan makan malam bersama. Karena itulah momen terindah, saling menyemangati yang akan berangkat bekerja, sekolah atau kuliah… Dan saya selalu mendapat bagian paling banyak menemani Ibu! Mendengar semua ceritanya, meski sering sekali berulang, tapi saya tak bosan. Saya merasa memiliki waktu emas menemaninya… tak terperi bahagianya. Meski mata mengantuk dan seringkali saya tertidur sambil duduk, hingga ia menyuruhku untuk kembali tidur.

”Tidur saja sana, kerjaannya udah beres belum…”

Kalimat itu terus berulang nyaris setiap hari. Dan ia tak pernah menggangguku ketika aku melakukan pekerjaanku. Dia sangat tahu makna konsentrasi dan fokus dalam bekerja. Saya salut…

Pada saat senggang, kami bicara. Dan mengalirlah menjadi benih yang terus menyemangati. Bahwa pada saatnya saya harus bisa. Bisa membangun impian saya. Ada saat yang tepat untuk memulai. Dan perlahan, saya mulai ayunkan langkah itu…

Bismillah…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s