Sudut Pandang

Membaca Sinyal


Saya mempunyai beberapa keponakan dengan hobi yang nyaris sama, main play station! Saking asyiknya, sehari suntuk bisa saja dia melupakan hal penting lainnya. Lupa makan, lupa minum, lupa tidur siang dan tentu saja ’mengaku’ lupa mengerjakan tugas sekolah karena kelelahan seharian main games.

Asyik itu membuat kita terlena…

Bisa melenakan diri sendiri, bisa juga melenakan orang lain. Sejarah banyak mencatat bagaimana sebuah rezim akhirnya hancur dan tidak terhormat karena pemimpinnya terlena, keasyikan dalam lingkungan yang juga terlena atau malah sengaja melenakan pemimpinnya. Apa pun modusnya, baik ada muatan kepentingan atau tidak yang pasti itu adalah sinyal yang harus peka dibaca pemimpin.

Rasa nyaman bagi sebuah kepemimpinan, harusnya mampu menjangkau sejauh mungkin wilayah kepemimpinan itu. Pemimpin yang baik, tidak harus membuat ring pertamanya saja yang nyaman, para pengurus atau orang-orang yang ada di dekatnya saja. Tapi rasa nyaman itu harus dinikmati juga oleh orang-orang di garis terluar organisasi tersebut, bahkan kalau mungkin juga buat orang-orang di luar organisasi yang dipimpinnya.

Pemimpin itu juga manusia.

Selagi masih manusia, dia memiliki banyak keterbatasan. Maka dari itulah sebuah organisasi dibangun dengan sebuah struktur untuk saling menutupi keterbatasan itu. Bila semua unsur struktural itu berjalan maksimal, tentu hasilnya akan maksimal. Karena seperti sebuah perjalanan, tidak selamanya seorang sopir akan membawa kendaraannya terus menerus kencang. Dia pasti akan mengerem, berjalan perlahan, atau bahkan sesekali berhenti karena hadangan lampu merah, mengisi bensin atau untuk istirahat makan dan buang hajat.

Hal terburuk dalam sejarah adalah banyak pemimpin gagal dikenang karena dia terlambat membaca sinyal. Soeharto sudah sering diingatkan oleh banyak pihak, berhentilah pada tahun 1992, maka ia akan dikenang baik sebagai Bapak Pembangunan dengan berbagai pencapaian pembangunan infrastruktur di pelbagai bidang. Sayang, dia terlambat! Dan ujungnya dia lebih dikenal sebagai diktator dan cerita buruk lainnya. Sama sekali tidak tersisa cerita tentang prestasinya…

Soekarno pun begitu. Andai dia cukupkan diri tanpa harus menjadi presiden seumur hidup, maka dia akan dikenal sebagai bapak revolusi Indonesia yang terhormat. Terakhir, banyak kasus di beberapa negara Timur Tengah dan Afrika yang pemimpinnya dijatuhkan secara paksa bahkan mati mengenaskan dalam dendam dan benci kesumat rakyatnya. Pencapaian terbaiknya luluh lantak tak terkenang sama sekali.

Modal menjadi pemimpin bukanlah angka!

Selisih antara dirinya dengan kompetitornya dalam sebuah hajatan pilihan yang dianggap demokratis. Sekali lagi, memilih pemimpin bukan semata-mata selisih angka yang lebih dari lawannya. Memilih pemimpin banyak caranya… Dan banyak sekali pilihannya. Dia ada di antara kita, bisa jadi dia itu adalah kita! Karena dalam setiap jiwa manusia terdapat potensi kepemimpinan yang dilahirkan sepaket oleh Tuhan. Semua kita adalah pemimpin. Bedanya hanya disoal gaya memimpin!

Sekali lagi, pemimpin harus punya kemampuan membaca sinyal!

Radar kepekaannya harus bisa melewati zamannya. Harus beberapa langkah di antara lainnya. Dia harus visioner! Jangkauan berpikirnya harus seluas-luasnya. Sehingga apa pun produk organisasinya adalah produk yang by design, sengaja diprogram, bukan sporadis dan tambal sulam. Pemimpin yang begini tahu kapan waktu ia berlari, berjalan pelan, dan kapan berhenti!

Saya ingin sekali menjadi pemimpin yang seperti ini. Tahu waktunya kapan berhenti…

Iklan

3 tanggapan untuk “Membaca Sinyal”

  1. Orang-orang model begitu selalu ada di sekitar ring satu kepemimpinan, modusnya macam-macam, karena ada kepentingan pribadi atau apa pun. Itu yang saya maksud dengan ‘lingkungan’ yang sengaja melenakan pemimpinnya.

  2. berdasarkan yang saya baca, Pak Harto minta saran ke salahsatu menteri terdekatnya menjelang PEMILU 1997. Kata menteri itu, Pak Harto masih disukai sama rakyat, jadi maju aja. Weis, maju. Tau2 taun 1998 rame. beliau diminta turun. sejak saat itulah, ini menteri ngga keliatan lagi wujudnya di tipi, sampe Pak Harto wafat. Baru2 ini aja dy muncul.

    Smuga pemimpin kita mendatang ngga ada yg bernasib sama.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s