Sudut Pandang

Dewan Perbukuan Bubar?


Pernah dengar Dewan Perbukuan Nasional?

Kalau belum saya juga baru dengar. Dan ironinya, saya mendengar ketika dewan ini mau dibubarkan bersama sepuluh dewan nonstruktural lainnya oleh Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi. Sebuah kementerian yang paling panjang namanya sepanjang sejarah penyelenggaraan pemerintahan di Indonesia. Mungkin Pak Jaya Suprana perlu mencatatnya di Museum Rekor Dunia Indonesia alias MURI. Pripun Pak Jaya?

Balik lagi ke Dewan Perbukuan Nasional, dibentuknya dengan Keppres lho, Keppres No.110 Tahun 1999, tidak main-main. Keputusan Presiden. Dewan ini salah satu tugasnya memastikan ketersedian buku secara gratis di sekolah. Tahu sendiri, bagaimana kondisi perbukuan untuk anak-anak sekolah. Saya tidak membayangkan jauh-jauh ke pelosok Jambi dan Riau, atau di pedalaman Kalimantan. Cukup ke Pandeglang atau pesisir Tangerang yang jaraknya tak perlu beratus-ratus atau beribu-ribu kilometer dari ibu kota Jakarta. Keadaannya tidak terlalu menggembirakan kalau tidak mau bilang mengenaskan.

Dalam kekuasaannya yang singkat, menurut saya, Habibie yang profesor dan doktor ahli aeronotika dunia mampu membuat terobosan yang brilian. Visioner dan bergegas untuk menyiapkan anak bangsa memiliki daya saing dengan negara lain. Kebijakannya tentang dewan buku yang isinya tidak hanya stakeholder dari departemen terkait, tapi memasukan praktisi perbukuan dalam dewan itu. Sebut saja perwakilan pengarang, penerjemah, penyunting, ilustrator hingga perwakilan pembaca, guru dan pustakawan.

Goblog-goblogannya saya, ini sih lembaga keren…

Di tengah kabar keterpurukan daya baca masyarakat kita. Keluhan buku mahal, karena selain harga kertas yang mahal (ironi dari pembabatan hutan sendiri), persebarannya tidak merata, pajak yang tinggi dan faktor lain. Setidaknya, menurut saya sih ada harapan untuk membuat buku menjadi murah, terjangkau dan berbobot. Distribusinya makin cepat menembus hingga ke perbatasan.

Walaupun saya juga tidak terlalu suka dan setuju dengan banyaknya lembaga non struktural dan ad hoc. Selain tidak efisien juga buang biaya dan tenaga. Mending memaksimalkan lembaga yang sudah ada, lalu membuat kordinasi yang lebih baik.  Sayang, atau saya yang tidak pernah tahu kiprah lembaga ini. Justru saya mendengarnya setelah mau dibubarkan, seperti dikatakan Menteri Mustafa Abubakar dalam Rapat Koordinasi Penataan Kelembagaan LPNK (Lembaga Pemerintah Nonkementerian). Ya sudahlah…

Iklan

Satu tanggapan untuk “Dewan Perbukuan Bubar?”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s