Story & History

{Tokoh} Umbu


Nama inilah yang menginspirasi apa yang saya lakukan sekarang. Sehingga saya bisa bilang, “Meraih cita-cita adalah mulia, mengantar seseorang meraih cita-cita itu lebih mulia”  manakala saya didaulat kembali jadi bagian sebuah komunitas menulis di Jakarta. Dari nama inilah beberapa orang besar dan penulis besar lahir. Sebut saja Emha Ainun Nadjib yang piawai menulis sajak, esai, cerpen hingga naskah drama. Ada nama sastrawan Linus Suryadi dengan Pengakuan Pariyem-nya yang aduhai lirisnya. Masih ada Ebiet G Ade, penyanyi balada yang legendaris dan EH Kertanegara, penulis dan jurnalis yang keren menurut saya.

Penyair yang sekarang tinggal di Bali adalah legenda Malioboro di 1970-an. Karena komunitas penyair yang didirikannya melahirkan banyak orang yang ‘jadi’ di jagat sastra. Tokoh yang dianggap agak misterius ini sudah aktif di dunia sastra sejak tahun 60-an, lahir di Paberiwai, Sumba Timur, 10 Agustus 1943. Hanya beda sebulan saja dengan ibu saya… orang yang melahirkan saya.

Konon Umbu sering menggelandang membawa kantung plastik berisi kertas-kertas, yang tidak lain naskah puisi koleksinya. Sebagian orang yang mengenal dan belajar kepada penyair ini menyebutnya “pohon rindang”. Maksudnya, ia menaungi dan telah membuahkan banyak sastrawan kelas atas, tapi ia sendiri menyebut dirinya sebagai “pupuk” saja. Hingga ia memilih Bali sebagai tempatnya saat ini, setelah bertahun-tahun menjadi oase di Malioboro bagi sastrawan, penulis, tukang becak hingga pelacur.

Sosok yang membuat Umar Khayam terkagum-kagum karena kehalusan bahasanya walaupun dia bukan orang jawa. Kesahajaan dan kerendahhatiannya, sampai pada titik dia tak mau memublikasikan karyanya, baginya cukup mendorong muridnya menjadi sastrawan berkelas. Cukuplah baginya, kebanggaan dengan melihat dari jauh…

Kalimat apa lagi yang bisa saya ucapkan untuk orang seperti ini?

Kalau ada yang bertanya, mengapa saya mengagumi seseorang, karena saya bisa belajar dan terinspirasi dari yang bersangkutan. Buat saya orang yang bisa menginspirasi orang lain adalah orang besar. Terlepas dari pilihan dan gayanya. Termasuk seperti Umbu Landu Paranggi yang gondrong dan selalu misterius, hidup menggembel di Malioboro, tapi orang-orang menjulukinya “Presiden Malioboro”. Hanya tiga presiden di zaman orde baru, pertama Presiden Soeharto, President Taxi, dan tentu saja Presiden Malioboro…

*Ingin menikmati puisi Umbu Landu Paranggi silakan ke; http://danakaryabakti-indonesianpoems.blogspot.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s