Story & History

{Tokoh} Prapanca


Dulu saya pernah berkantor di sekitar Jalan Prapanca, Kebayoran Baru. Sebuah kantor penerbitan media yang kini bosnya jadi menteri. Tidak jauh dari SMA Pangudi Luhur yang salah satu siswanya Raafi jadi korban penusukan di Shy Rooftop Kemang. SMA yang bikin saya iri, karena bisa berambut gondrong. Padahal saya baru bisa memanjangkan rambut ketika kuliah.

Saya sering sekali merasa perlu, mengorientasi diri ketika berada di tempat baru. Misalnya, kalau saya berkantor di suatu kawasan, kira-kira radius 100 meter dari tempat saya berada itu ada apa saja ya… Entahlah, apa ini juga penting bagi orang lain. Setidaknya buat saya penting.

Hingga saya menemukan jalan tembus untuk sebuah warung makan yang murah meriah, misalnya. Itu salah satu keuntungannya. Lainnya, saya bisa jalan menerobos kalau harus jalan kaki dengan ongkos yang cupet. Dan kalau saja ada serangan mendadak dari tentara KNIL dan NICA seperti zaman pergerakan dulu, setidaknya saya punya cara untuk bertiarap dengan cepat di tempat yang tak terdeteksi musuh.

Saya juga suka iseng bertanya-tanya, kenapa nama kampungnya jadi terlewat oleh nama jalan yang datangnya belakangan. Saya sempat terkesima juga ketika ada pertanyaan, ”Masuk ke wilayah manakah gedung DPR?” dalam sebuah kuis Versus di Kompas TV. Dua anggota DPR dari partai besar gelagapan dan sukses tidak bisa menjawab. Padahal setiap hari dia berkantor, ketiduran dan sesekali buang hajat di situ.

”Kerja di mana?”

”Prapanca…”

Hmm, orang yang bertanya tersenyum dan mengangguk. Dikira saya bekerja di Jalan Prapanca. Padahal bisa saja saya kerja di Prapanca Residence, Prapanca Hotel, Prapanca Meubel atau malah di tempatnya Hartono mucikari yang terkenal itu. Nah lho…

Sebenarnya siapa atau apa sih Prapanca itu?

Dia adalah salah satu pujangga sastra Jawa yang hidup zaman Majapahit. Seorang empu, Mpu Prapanca yang menulis kitab Nagarakertagama. Menurut saya luar biasa lho, seorang penulis namanya dipakai buat nama jalan. Nama yang mengalahkan nama Pela Mampang dimana Jalan Prapanca itu berada.

Topik utama Negarakertagama atau Desawarnana yang ditulis Mpu Prapanca adalah kunjungan Raja Hayam Wuruk berserta keluarga dan pejabat Majapahit di abad 14 berkeliling wilayah kekuasaannya di bagian timur Jawa. Mpu Prapanca yang turut serta dalam rombongan itu menuliskan setiap kegiatan raja seperti layaknya seorang jurnalis. Sebagian sejarahwan malah menyebutnya sebagai jurnalis pertama di nusantara.

Prapanca itu empu. Dalam bahasa Indonesia empu berarti gelar kehormatan yangg berarti “tuan” atau orang yang sangat ahli (terutama ahli membuat keris). Tapi di Jakarta, Prapanca sudah menjadi nama tempat. Walau bermula dari nama jalan raya di sekitar Blok A dan Kemang.

Saya senang, ternyata bukan nama raja, pahlawan perang, atau tokoh emansipasi saja yang bisa jadi nama jalan. Nama penulis ternyata juga bisa jadi nama jalan. Buat yang merasa penulis dan jurnalis yang sekualitas Mpu Prapanca siapa tahu suatu ketika mendapat penghargaan yang sama. Selamat berkarya…

*terkenang sebuah warung soto yang pasti sekarang sudah tergusur…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s