Fun Writing

Cerpen?


cerpen

“Apaan sih cerpen…”

“Sudahlah, berhenti nulis fiksi, Fan…”

Ada banyak lagi cibiran seperti yang pertama. Tentu dengan variasi dan tekanan nada mencela yang berbeda-beda. Atau beberapa lagi menyarankan saya, katanya sayang kalau saya hanya menghabiskan waktu untuk mengurusi fiksi. Sayang umurnya!

Saya bukan orang yang tergila-gila sama cerpen, cerita pendek. Tapi saya juga bukan orang yang antipati terhadap cerpen. Saya juga tidak tahu, awal mulanya mengapa saya menulis cerpen, mengirimkannya ke media, lalu dimuat, kemudian ada penerbit yang membukukannya. Semuanya mengalir begitu saja. Dan anehnya, cerpen saya pernah juara. Itulah keanehan terdahsyat dalam hidup saya…

Mudah kagum, itulah kelemahan saya. Kata kakek saya yang Jawa, tentu ini melanggar sila, ojo gumunan. Jangan mudah kagum. Jadi manusia itu jangan mudah terjebak, mengagumi sesuatu. Norak, istilah yang paling fresh. Tapi benar kok, soal cerpen membuat saya mengagumi Kuntowijoyo, guru besar sejarah Universitas Gajah Mada Yogyakarta. Kalau cerpen tidak penting, apakah orang sekaliber Pak Kunto akan menulisnya? Lalu langganan menjadi pilihan cerpen yang dibukukan setiap tahunnya?

Cerpen Sri Sumarah dan Seribu Kunang-kunang di Manhattan tulisan Pak Ageng alias Umar Khayam, kebetulan juga guru besar UGM, mantan pejabat di Departemen Penerangan zaman Orde Baru, Ketua Dewan Kesenian Jakarta, budayawan… juga membuat saya kagum. Apa iya, tokoh sekaliber beliau menulis cerpen cuma iseng belaka? Tidak penting?

Kemudian ada Profesor Budi Darma, Kiai Mustofa Bisri… dan masih banyak nama lain yang ’ngedhab-edhabi’ – dahsyat bukan main-main turut menulis cerpen.

Buat saya sebuah cerpen tidak cerita pendek semata…

Ada banyak pengetahuan tumpah di sana. Bukan semata-mata ketrampilan bercerita dan meramu bahasa. Secara sederhana, ketika kita bicara setting saja, salah satu unsur cerpen, kita akan berhadapan dengan masalah geografi, potensi wilayah, bobot sejarah dan banyak lagi eksplorasi tentang set yang menghidupkan sebuah cerpen. Setting waktu, tempat dan tokoh membuat seorang penulis cerpen yang baik harus membekali dengan berbagai lintas keilmuan.

Membuat tokoh yang berkarakter, tidak hanya menggambarkan konstruksi fisiknya saja, tapi juga bangunan psikologis karakter tersebut. Apakah dia seorang yang introvert atau ekstrovert. Tipe manusia seperti apakah dia, melankolis, plegmatis, atau sanguinis. Tidak sederhana…

Mungkin yang saya pahami itu…

Sehingga saya merasa, menulis cerpen pun butuh banyak amunisi pengetahuan yang lebih dari pembacanya. Pertanyaannya kita menulis cerpen untuk apa? Mencari uang, karena ada honornya. Mencari popularitas karena dimuat media dengan tiras ribuan dan tersebar ke seluruh Indonesia. Atau mencari kepuasan batin, berbagi, mengalirkan pengetahuan agar tak berhenti di kepala dan tidak menjadi apa-apa.

Kalau saya ditanya kenapa menulis cerpen, jawabannya ya karena saya bisanya cuma menulis cerpen. Dan menurut saya, itu setingkat lebih sulit daripada tidak pernah mencoba menulisnya.

* terima kasih teman2 kelas cerpenku, semangat!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s