Story & History

Nur


“Tapi orang tuaku nggak pernah nanya tuh, Mas…” tandas gadis berkerudung jingga sambil tersenyum.

Aku mengimbangi senyumnya. Setelah mengempas napas agak bertenaga, barulah aku bilang. ”Ibumu memang nggak ngomong, say… Bapakmu juga nggak bakalan bilang kalau kamu harus menikah segera… Tapi kamu bisa raba kan, ketika mereka mencarikan kamu calon suami itu sudah melebihi semuanya. Itu tanda mereka nggak sabar agar kamu segera menikah…”

Wajah gadis itu tersentak. Diam beberapa saat. Matanya menatapku penuh tanya. Sebelum ia mengibaskan napas panjang juga. Duduknya menjadi tak tenang…

Sore di teras rumahku menjadi agak kaku. Kemilau matahari yang lolos dari lubang angin bermotif kembang menggambari lantai. Tidak seperti beberapa menit sebelumnya. Saat dia datang dengan salam yang lantang, wajah yang riang dan setenteng buah tangan untuk menemani minum teh sore ini. Seperti janjinya yang akan datang kepadaku, sesuai kesediaanku untuk menemaninya…

”Gitu ya Mas?” desahnya antara bertanya dan meyakinkan kebimbangannya.

”Ketika memasuki usiamu saat ini, kira-kira adakah teman sekampungmu yang masih melajang? Teman SMA-mu? Teman SMP-mu?”

Gadis itu menerawang… mengingat masa lalunya di kampung, jauh di pelosok Sumatra. Tempat lahir dan tumbuhnya. Sebelum ia pindah mengikuti orangtuanya ke ibukota. Aku mengikuti gerak matanya. Seperti sedang membuat daftar nama, lalu mencontrengnya satu persatu. Dia sudah, si itu sudah, si ini sudah…

”Emm, iya Mas, kayaknya banyak yang sudah…” ucapnya lirih. Seperti ada beban dalam kata-katanya. Berat…

”Buat orangtua, selalu ada kekhawatiran untuk anak perempuan lajangnya, Nur…” jarang sekali aku menyebut namanya, Nurlaila. Si cahaya malam, rembulan! ”Khawatir dengan pergaulan kota yang beringas, khawatir salah berteman, khawatir yang lain… banyak! Termasuk khawatir tak kunjung berjodoh…”

”Saya mau menikah Mas, tapi…” sergahnya.

”Banyak yang mau menikah, hanya sedikit yang tanpa tapi…”

Dia mengernyit sesaat, tampaknya sulit mencerna kalimatku. Biarlah, ini pembicaraan serius, seperti dia minta waktuku untuk bicara di telepon tiga hari lalu.

”Maksudnya, Mas?” tanyanya. Menyerah, malas mencerna atau malah tidak menyimak. Itulah pentingnya bahasa dan berbahasa. Kadangkala tanpa sadar kita bicara semena-mena tanpa mengukur kemampuan lawan bicara untuk menangkapnya.

Tak ada penjelasan yang rumit dariku. Hanya mengilustrasikan saja, berusaha menggugah empati. Kadang kan anak muda merasa percaya diri benar tak terkoreksi. Aku hanya bilang pada Nurlaila, bahwa cinta itu bisa tumbuh kapan saja. Karena cinta itu sepaket dengan jodoh dari Tuhan. Mustahil Allah memberi jodoh tanpa cinta, rasa sayang dan segala kebaikannya sekaligus.

”Ya logikanya orang goblog aja sih, Nur…” kataku sambil senyum.

Nurlaila si gadis Sumatra yang sekarang jadi anak Jakarta juga tersenyum.

”Aku dulu punya kriteria istriku harus pintar, cantik, kaya dan shalehah… semua yang memenuhi kriteria itu aku dekati, aku usahakan sebisa-bisanya sampai kayak orang gila dan memaksa Tuhan dengan doaku agar dia jadi istriku. Tapi kan nggak bisa… Jodoh sudah diatur Tuhan sampai ke waktunya sekaligus. Insya Allah, kalau jodoh selalu ada jalannya.”

”Hmm, gitu ya Mas…” ujarnya menarik bibir, mencerna sesuatu.

”Siapa pun jodoh kita, bersamanya sudah sepaket itu tadi… cinta, kasih sayang, termasuk rezekinya. Berdoa saja lah… Soal datangnya dari mana, banyak jalannya. Bisa kamu cari sendiri, dari orangtuamu… Bisa jadi dari mata turun ke hati. Dari pandangan mataku ke hatimu…”

Nurlaila ternganga!

Aku tertawa dalam hati, meski yang terlihat hanya senyum saja…

 * terinpirasi tamuku sore itu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s