Story & History

Pulang


Sebuah perbincangan kecil itu sudah lama sekali. Antara saya dan teman saya, lulusan institut ilmu agama terkemuka di Jakarta yang selanjutnya jadi universitas islam. Dia baru saja menikah, saya mengunjunginya karena pada saat dia mengundang, saya tidak bisa datang. Dia teman saya, ketemunya di masjid. Saat saya baru-baru saja pindah ke rumah baru yang di kampung itu.

”Jadi sekarang tinggal di mana?” tanya saya.

”Di sini, rumah mertua,” jawabnya sambil senyum.

Sambil mengunyah apa yang terhidang, saya mendengarkan alasan dan ceritanya. Orang saleh macam dia, pasti omongan bertuah. Saya harus khusyuk mendengarkannya. Saya tidak punya keberanian untuk angkuh dan merasa bukan siapa-siapa selain bukan apa-apa ketika berhadapan dengan orang-orang macam ini. Walaupun dia lebih muda sekalipun. Lebih kurus, lebih kecil dan tidak segendut saya.

”Saya sudah sepakat sama istri…” katanya membuka cerita.

Kesepakatan itu bukan saling membahagiakan diri mereka berdua saja. Tapi ini masalah mengabdi kepada orang tua di akhir usianya. Kedua mempelai baru ini sepakat, mengurusi orang tuanya di usia uzurnya. Sehingga itulah, teman saya memutuskan tinggal bersama mertuanya.

”Semuanya sibuk, biarlah saya memilih sibuk mengurusi mereka…”

Tuh kan, apa saya bilang. Omongan orang saleh pasti dalam. Kesibukan dunia memang tak ada habisnya. Kalau tidak sibuk, banyak juga yang pura-pura sibuk atau cari kesibukan apa saja. Begitulah…

”Saya tidak ingin menyesal…” katanya lagi.

”Menyesal apa?” tanya saya.

”Kalau mereka nggak ada, saya dan istri nggak melakukan yang terbaik di akhir hayatnya…”

Duss…

Rontok hati saya seketika. Seketika, dalam diam saya yang sebentar, berbaris bergantian gambaran-gambaran bagaimana saya tidak melakukan itu. Saya sibuk sendiri, kesibukan yang tidak jelas. Sibuk dengan pekerjaan yang tak juga kunjung bikin saya jadi konglomerat. Sibuk berorganisasi yang tidak juga mendongkrak saya menjadi kaya raya. Juga kesibukan lain yang sebenarnya remeh temeh…

”Kalau sampai saya nggak melakukan itu, nyeselnya panjang sekali, teman… seumur hidup kita,” katanya lagi. Menancapkan granat di ulu hati saya dan meledakkannya sekali lagi.

Sepulang dari rumah mertua teman saya itu, saya berjanji dalam hati… Memuliakan Ibu sepenuh hati, membahagiakannya hingga ujung waktunya. Alhamdulillah, sebelum beliau berpulang sempat bilang, ”Terima kasih ya sayang… ibu bahagia punya anak kamu…” sambil mengelus rambut saya. Saat saya menciumnya…

Allahummaghfirlaha, warhamha, wa’afiha wa’fu’anha…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s