Fun Writing

Karma


“Kamu nggak salah pilih kan?” tanyaku lagi.

”Nggak, saya yakin kamu bisa…” sahut Rima, temanku. Kepala sekolah sebuah SMA swasta di Jakarta Selatan.

Aku menyungging senyum sambil menggerakkan leher perlahan. Menggangguk pelan sekali. Masih agak ragu, bisakah aku? Nyaliku sempat menciut, tapi adrenalinku seperti dipecut, ”Kamu pasti bisa!” Berulang kali, kalimat pendek itu berdentam-dentam dalam memukuliku, membangunkan kepercayaan diriku.

”Bagaimana, bisa ya…”

”Insya Allah…”

Perbincangan sore itu ditutup dengan saling bertukar pandangan. Tentang konsepsi pendidikan, idealisme, beberapa hal teknis hingga psikologis yang trivial sekalipun. Menjadi guru, ya… guru, tidak sederhana. Bukan hanya berdiri di depan kelas, menjelaskan pokok-pokok mata pelajaran, lalu selesai ketika bel berdentang. Guru harus bisa jadi sumber ilmu. Nah, itu dia… di zaman yang sudah dahsyat berkembang, semua serba cepat, jadi guru pastilah tantangannya lebih berat.

”Semoga karma itu tidak menimpaku…” bisikku dalam hati ketika sepeda motor kunyalakan. Ini pagi pertamaku menjadi guru, hanya guru ilmu jurnalistik, sepekan sekali. Tapi ini hari yang paling luar biasa membuatku berjam-jam didera rasa risau tak berkesudahan. Semoga semuanya baik-baik saja, kalimat ini doa dan harapan yang terus mengakrabi sepeninggal Irma sore itu, hingga pagi hari pertamaku ke sekolah itu.

Teringat dulu sekali, ketika aku SMA. Aku bukanlah murid yang baik budi, hormat pada guru, apalagi murid teladan yang berseragam rapi, rambut berminyak disisir belah pinggir, duduk manis mendengarkan guru dari awal hingga akhir, bertanya dengan kritis hingga kelihatan pintar benar. Aku hanyalah murid jahil meski tidak terlalu bodoh.

Gerbang sekolah yang gagah tak angkuh karena senyum satpam yang ramah. Sekolah yang riuh, selalu begitu dari dulu. Aku meng-upgrade rasa, berusaha sebisa-bisanya, menjadi guru yang mengasyikkan bagi murid-muridku. Rima tersenyum menyambutku…

”Boleh kan begini?” kataku menunjukkan pakaianku. Celana jins hitam, kemeja hitam, dan sepatu kulit warna coklat. Itu salah satu permintaanku pada Rima, biar aku merasa nyaman. Dia mengabulkan…

”Keren lah…” dia mengiring langkahku ke kantor. Mengenalkannya kepada beberapa guru ’beneran’ sekolah itu. Hingga akhirnya, Rima memberiku arahan tentang apa dan bagaimana, serta pesan penting yang sudah disepakati dalam pertemuan sebelumnya. ”Mereka boleh lupa dengan pelajarannya, tapi bikin mereka tidak pernah lupa dengan cara mempelajarinya…”

*****

”Kalian boleh ngapain aja di kelas ini…” jelasku setelah perkenalan. ”Asal jangan mengganggu temanmu yang sedang belajar apalagi membuat pelajaran ini terganggu dan menjadi kacau. Kalian mau keluar juga boleh kalau nggak senang dengan pelajaran saya…”

Aku melihat berbagai rona di wajah anak-anak kelas pertamaku itu. Ada suka cita, ada heran, ada bingung… Aku hanya ingin mengulang kebaikan salah satu guru SMAku dulu, yang menyilakan aku keluar daripada mengganggu teman lainnya. Dengan catatan, aku ulangan bisa. Tidak menyontek dan tidak ada dispensasi apa pun. Ah, di mana guru baik itu ya…

Tidak ada muridku yang keluar. Dan pelajaran pun dimulai. Semua murid harus bertanya, harus. Setidaknya setiap pertemuan setelah pertemuan pertama ini, mereka harus menyiapkan minimal lima pertanyaan. Hari pertamaku mengajar, aku lolos dari karma. Tidak kujumpai murid ’tengil’ seperti kuidentikan dengan masa sekolahku dulu. Alhamdulillah, aku membawa senyum ke ruang guru.

Rima menyambutku dengan senyum.

”Asyik cara mengajarmu…” katanya. ”Sulit sekali membuat murid bertanya…”

”Kan ini ekskul jurnalistik, bertanya adalah senjata jurnalis… ya sudah, aku ajari mereka bertanya saja dulu…” aku tertawa berderai.

Rima tertawa. Lalu aku berbisik…

”Moga-moga mereka nggak kapok ya…”

Ahai… rupanya selalu ada makanan ringan di meja guru ya… Niat hendak pulang segera pun batal. Sayang, tidak ada doa tolak rezeki. Maka sambil mengakrabkan diri dengan guru-guru yang lain, kunikmati saja sepotong risol, mendoan dan cabe rawit yang bikin bibirku memerah kepedasan…

*****

 Aku beruntung, Rima cukup akomodatif dan responsif terhadap cara-caraku mengajar di kelas jurnalistik. Termasuk membawanya ke field trip ke beberapa institusi media cetak, radio dan televisi. Aku melihat, mereka lebih percaya diri. Merasa memiliki pengalaman baru, bisa bercerita tentang pengetahuan barunya kepada teman-temannya. Mungkin kepada anggota keluarga lainnya.

”Saya ingin jadi fotografer, Pak…”

”Saya ingin jadi penyiar radio, bisa siaran sambil ngopi dan sarungan…”

”Saya ingin menjadi penulis script…”

”Saya ingin menjadi desainer grafis…”

”Saya ingin menjadi kameraman…”

Aku melihat keinginan itu disampaikan dengan mata berbinar dan wajah yang menguarkan optimisme. Mengharukan juga membanggakan. Terutama saat mereka tak lagi ragu-ragu dan malu-malu untuk bertanya. Setidaknya, begitu rupa pertanyaan bermunculan untuk memuaskan rasa ingin tahu mereka.

”Kamu ingin jadi apa, Ren?” tanyaku pada Rendi, muridku paling dekil dan hobi mengantuk. Aku maklumi, karena aku tahu, dia harus membantu orangtuanya yang berdagang di Pasar Jombang, Ciputat. Tak apa…

”Saya ingin jadi… jadi… pembaca berita, Pak…” jawabnya terbata.

”Huuuuuu….” sekelas riuh bukan main.

”Mana ada pembaca berita dekil begitu,” celetuk temannya.

”Ada, pembaca berita tivi rusak…”

Kelas semakin riuh. Tapi setidaknya aku telah lolos dari karma, tak ada muridku yang ’tengil’. Walau ada yang dekil seperti Rendi…

* teriring terima kasih kepada Mbak Irma. Pernah dimuat Majalah Story dengan judul Melepas Karma.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s