Fun Writing

Kamu Masih Kecil, Nak…


Seringkali orang salah paham terhadap diriku. Mungkin karena posturku yang mungil, aku dianggap masih usia belasan. Padahal hitung saja, dari sekolah dasar sampai lulus kuliah, berapa sudah waktu kuhabiskan? Belasan tahun! Enam tahun, tiga tahun, tiga tahun lagi, terus kuliah empat tahun…

”Mbak eh… Dik Fatma, bikin saya ingin tersenyum,” kata Bu Ummi, kepala tata usaha SMP Putra Bangsa tempat aku mengajukan lamaran mengajar.

”Kenapa Bu, ada yang lucu sama saya?” aku tersipu dan mencoba meneliti, siapa tahu ada yang salah dengan pakaianku. Cara berjilbabku, padu padan bajuku, hingga sepatu yang kupakai. Tidak ada yang salah…

”Dik Fatma imut banget…” perempuan setengah baya itu terkekeh, ”Lebih pantas jadi teman anak saya yang SD kelas lima…”

Oh, itu. Aku menyambut tawanya.

”Dela, anak saya yang kedua kelas lima SD bongsornya bukan main, kayak anak SMA, kakinya juga gede, ukuran sepatunya ngalahin orang serumah,” lanjut Bu Ummi membuat aku menahan senyum.

”Begitu ya Bu, anak sekarang gizinya cukup, jadi pertumbuhannya luar biasa,” aku menimpali. Sambil berpikir, apa yang salah denganku. Tinggiku 155 cm, wajarlah buat perempuan melayu. Beratku saja yang terlalu ringan, 45 kg pun kurang. Atau mungkin wajahku yang tipis, tirus, dan agak sedikit oval meruncing di dagu? Ah, semua ini karena Allah saja yang berkehendak. Aku sih tidak terlalu risau, hanya saja sudah terlalu banyak pengalaman salah sangka terhadap diriku.

”Wah, nggak nyangka, mahasiswa to?”

”Hebat banget, anak kecil ikut wisuda sarjana?”

”Ihh, gemes banget deh! Kelihatan muda banget…”

Dan atas saran Mbak Nadia, aku melamar menjadi guru SMP dekat rumahnya. Katanya daripada menganggur, bikin semakin malas bekerja nantinya. Ya sudah aku turuti saja, maka siang itu, aku meyakinkan diri melamar menjadi guru walau latar belakangku sarjana pertanian.

”Nanti dihubungi lagi ya Dik Fatma, kalau Pak Kepala Sekolahnya sudah kembali dari liburan…”

***

 ”Wa’alaikum salam…” Pak Kepala Sekolah menyahut salamku dan sekilas tampak terpaku. ”Ini Bu Fatma? Ibu Laila Fatma…”

Aku mengangguk sambil tersenyum. Tanpa menduga-duga apa yang ada di benaknya. Aku hanya memenuhi panggilan untuk bertemu dengannya. Menentukan apakah aku diterima atau tidak, dan kalau diterima, kapan aku bisa mulai mengajar.

”Iya, saya Laila Fatma, Pak. Seperti yang tertulis di lamaran itu…” jelasku.

Kepala sekolah mengangguk, mendongak sejenak, memandangiku lalu mengalihkannya ke berkas lamaranku.

”Anak-anak pasti akan senang diajar oleh guru yang mungil, cantik, dan prestasi akademiknya memuaskan…” kata kepala sekolah, ”Kebetulan, sekolah ini membutuhkan guru bahasa Inggris untuk kelas delapan, Nak, eh Dik… eh, Bu Fatma…”

Aku tersenyum, antara senang dan agak geli.

”Jadi saya bisa mengajar di sini, Pak ?” tanyaku.

”Ya, selamat bergabung menjadi pendidik di sekolah sederhana ini,” kepala sekolah itu menjulurkan tangannya, menyalamiku. Menyambut hangat kehadiranku sebagai guru baru.

Beberapa saat kemudian, pembicaraan menjadi cair. Dan lagi-lagi, kepala sekolah ini juga bilang, ”Kamu imut sekali ya, seperti cucu saya yang baru masuk SMA.” Hingga akhirnya aku diperkenalkan ke ruang guru. Belasan guru pun menyalamiku dengan tatapan agak aneh.

”Imut bangetttt…” salah seorang guru perempuan memeluk dan menciumiku.

***

Aku sedang menunggu Mbak Nadia yang berjanji akan menjemputku di sekolah. Beberapa anak sekolah lalu lalang di sekitar kantor guru. Beberapa melirik, menatap sejenak, untuk kemudian saling berbisik. Entah apa… Aku berjalan menuju taman depan kantor yang asri. Ada bangku panjang di bawah rerimbunan pohon keras, seperti rambutan dan sebangsa pohon kelengkeng.

Terlanjur sudah pamit, tak enak aku kembali ke kantor. Kuputuskan duduk sambil sambil melepaskan pandangan ke sekolah ini. Sekolah swasta yang sederhana, berawal dari idealisme kepala sekolahnya, memberikan solusi pendidikan murah dan berkualitas bagi sekelilingnya. Luar biasa…

”Saya punya kewajiban melakukan ini, walaupun dengan kerja keras dan usaha yang tidak mudah untuk mewujudkannya…”

Mataku sekelebat melihat sosok kepala sekolah membungkukkan badannya. Tangannya mencomot sesuatu, sekilas seperti kertas yang diremas-remas. Memandangi sebentar, bergeleng kepalanya, lalu sambil berjalan ia memasukkannya ke tempat sampah di dekatnya.

Aku tak bisa berkata-kata. Entah apa kata yang paling tepat untuk sosok itu, wajahnya tadi dekat dan kini keteladanan itu lekat sekali. Aku merasai haru biru. Memanas mataku beriring dengan cekat di tenggorokanku. ”Keteladanan yang luar biasa…” berbisik hatiku.

”Anak baru ya…” tiba-tiba empat murid laki-laki mengerumuniku.

Aku belum sempat melepaskan kekagetanku, pertanyaan demi pertanyaan yang menginterogasi terus meluncur silih berganti.

”Kelas berapa?”

”Pindahan dari mana?”

”Tinggal di mana?”

”Boleh dong kenalan…” salah satu agak genit dan tengil, khas sekali. ”Atau tukeran nomer hape gitu…”

Ups! Aku tersenyum saja. Sambil berdiri dan meninggalkan mereka, para cowok tanggung yang lagi puber. Menghampiri Mbak Nadia yang melambaikan tangannya dari pintu mobil di ujung gerbang sekolah Putra Bangsa.

”Ah, kamu masih kecil, Nak…” batinku tertawa sambil melangkah lebih gegas.

* Terinspirasi adinda mungilku. Pernah dimuat Majalah Story.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s