Story & History

{Tokoh} Kuntowijoyo


Barangkali saya saja yang terlalu lokal dan picik. Sehingga saya hanya kenal dan mengagumi orang-orang lokal. Lagi-lagi ya baunya Jogja. Jawa dan sangat Indonesia. Tapi saya yakin kok, orang Indonesia juga banyak yang hebat… Setidaknya menurut saya.

Awalnya saya membaca Khotbah di Atas Bukit terbitan Pustaka Jaya di perpustakaan sekolah menengah. Setelah itu saya membaca karya lain dari Kuntowijoyo, baik kumpulan karya fiksinya maupun buku-bukunya tentang metodologi sejarah sesuai dengan bidang akademisnya sebagai guru besar sejarah di UGM.

Eh, ketika saya kuliah, penerbit Bentang (sebelum diakuisisi Mizan) menerbitkan kembali Khotbah di Atas Bukit. Saya segera saja mengoleksinya dan tentu saja membaca kembali karya sang guru besar ini. Cerita tentang si tua Barman dan Popi yang muda dan cantik pun kembali menari di otak saya. Dan rupanya, saya juga beruntung mendapat buku Khotbah di Atas Bukit edisi pertama terbitan Bentang (setelah menjadi salah satu anak perusahaan Mizan) dengan cover yang lebih elegan.

Selain produktif menulis sastra, Kuntowijoyo yang lahir di Jogja 22 Februari 43, (hampir seumuran dengan ibu saya rupanya) juga dikenal sebagai budayawan, sejarahwan dan akademisi. Orang yang hebat. Pemikirannya brilian dan tetap dengan kerendahhatiannya di mana pun berada.

Saya tidak hanya membaca buku-buku kumpulan cerpennya seperti Pistol dan Perdamaian, Laki-laki yang Kawin dengan Peri atau Anjing-anjing yang Menyerbu Kuburan. Saya juga membaca Pasar, novelnya yang juga menarik.  Dan saya semakin menyukai sejarah dan pemikiran sosial berkat buku-bukunya yang lain. Dinamika Sejarah Umat Islam di Indonesia, Radikalisasi Petani, Demokrasi dan Budaya Birokrasi…

Ketika belakangan dia nobatkan sebagai penggagas sastra profetik, saya senang-senang saja. Karena jauh sebelum itu, ketika selesai membaca Khotbah di Atas Bukit yang saya pinjam di perpustakaan sekolah, saya sudah meyakini, Pak Kunto orang hebat. Dan tentu saja, inilah satu lagi orang yang memengaruhi saya dan menginspirasi sekali…

Pak Kunto mendengungkan kepada saya, untuk pergi ‘ke hidup yang luas!’ seperti yang ditulis dalam ending Khotbah di atas Bukit.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s