Story & History

{Tokoh} Pram


Kalau ada penulis yang mampu membuat saya yang masih sekolah membaca tuntas bukunya, artinya orang itu hebat sekali. Menurut saya lho ya… Setidaknya dia mampu memikat seluruh jiwa raga dan mengikat waktu saya untuk menunda kesenangan lainnya.

Orang itu adalah Pram…

Ya, Pramudya Ananta Toer.

Perkenalan saya dengan karya-karyanya sejak akhir sekolah menengah atas dan awal kuliah. Saya memburu semua bukunya dengan susah payah. Karena nama itu, saya menjadi tahu beberapa toko buku alternatif dan sangat khusus di zaman orde baru. Karena nama itu saya jadi tahu polemik sastra di masa lalu, dan karena nama itu saya jadi terusik untuk belajar sejarah. Soal itu polemik dan politiknya biarlah…

Dan seri Bumi Manusia – terdiri dari Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca, (sering disebut karya Pulau Buru, sebuah pulau di Kepulauan Maluku yang luasnya 8.473,2 km², penjara tempat Pram menulisnya) pun saya tuntaskan. Maaf kalau kala itu saya membaca fotokopiannya. Karena saya lebih sering mendapatkan fotokopinya daripada aslinya. Bersyukur ada teman saya yang punya teman lagi di Belanda, sehingga dengan penuh kebahagiaan saya akhirnya memiliki bukunya Pram yang asli Bumi Manusia edisi Eropa terbitan Manus Manici b.v. Holand tahun 1980.

Terlepas anggapan orang dalam mempersepsi dirinya. Saya masih tetap berpegang teguh pada, “tidak semua orang baik, tidak semua orang buruk, tidak ada orang yang sempurna.” Dan melihat Pram, saya tetap bersandar pada hal itu. Pram sebagai manusia…

Kalau saat ini saya menulis, salah satu yang menyebabkannya adalah almarhum Pramudya, pria kelahiran Blora yang hampir separuh hidupnya hidup dari penjara ke penjara. Itulah yang meyakinkan saya, bahwa ide itu merdeka. Maka dikungkung bagaimana pun ia akan tetap bersuara. Dan keinginan saya, kalaupun menjadi penulis, saya ingin tulisan saya bersuara… bahkan ketika jasadnya sudah terkubur.

Jadi kalau ada pertanyaan pada saya, siapa yang menginspirasimu menulis sih?

Saya akan menjawab, “Pram, salah satunya…”

Kenapa dia?

“Karena dia penulis yang luar biasa…” sambil saya menengok buku Arus Balik setebal 750 halaman terbitan Hasta Mitra tahun 1995 yang sudah saya buat hardcovernya.  Dan untuk menjadi penulis hebat, Pram mengajarkan untuk terus belajar, rajin membaca (termasuk mengkliping seperti yang dilakukannya), dan tetap berpikir merdeka…

 

*teringat buku2 Pram yang dipinjam lalu tak kembali dan sampai kini tak terganti…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s