Story & History

{Tokoh} Pak Singgih


Saya masih teringat, kakek saya suka membaca buku Api di Bukit Menoreh sampai berjilid-jilid. Saya masih sekolah dasar dan rasanya baru bisa membaca, ketika buku-buku itu tiap bulan selalu datang yang baru. Sebelumnya seri Nagasasra Sabuk Inten pun bertumpuk di lemarinya…

Bagi pembaca koran Kedaulatan Rakyat atau koran lain yang terbit di Jogja dan edar di Jogja dan Jawa Tengah, nama SH Mintardja tentu tidak asing. Karena sebelum dibukukan secara berkala menjadi cerita bersambung di beberapa surat kabar itu. Maka cerita bersetting Mataram, Demak, Pajang itu pun menjadi bacaan bacaan saya.

Semakin ke sini, saya semakin penasaran dengan sosok penulisnya. Kemampuannya membangun setting cerita sangat hidup. Saya masih sangat terkesan dengan perjalanan tokohnya yang mengenalkan saya pada Kali Progo di Kulon Progo, Jogjakarta. Saya lebih dulu menikmati suasananya jauh sebelum akhirnya saya berkesempatan berkunjung ke tempat saudara saya di Sentolo, di mana Kali Progo melintas…

Saya langsung terbayang Agung Sedayu, tokoh dalam buku Api di Bukit Menoreh itu. Betapa tajamnya fiksi itu di otak saya. Maka, kalau saya mengidolakan penulis bersahaja ini, yang produktif menulis sampai hari tuanya. Tentu pantas dan selayaknya.

Siapa SH Mintardja?

Lahir di Jogjakarta, 26 Januari 1933 dan bekerja di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan sampai pensiunn. Dianggap penulis cerita silat, padahal menurut saya lebih dari itu. Dia menulis roman sejarah dengan sangat hidup. Sudah menulis lebih dari 400 buku. Api di Bukit Menoreh adalah yang terpanjang, 396 buku. Beberapa buku lainnya antara lain, Tanah Warisan, Matahari Esok Pagi, Meraba Matahari, Suramnya Bayang-bayang, Nagasasra Sabukinten yang membuat Mahesa Jenar seolah-olah legenda  dalam sejarah Demak.

Maka kalau saya ditanya, apa yang membuat saya mengidolakannya…

“Pak Singgih adalah pencerita yang hebat!”

Singgih Hadi Mintardja begitu nama lengkapnya, orang-orang terdekatnya memanggil dengan Pak Singgih. Orang yang membuat saya tak lagi heran kenapa kakek saya begitu menikmati ceritanya. Saya menikmati setting dan kekuatan tokohnya yang sangat hidup. Mengingatkan pada Mahesa Jenar di Nagasasra Sabuk Inten. Dan kali ini, kakek saya bersepakat dengan cucunya, mengagumi karya-karya Pak Singgih…

*sayang, koleksi kakek saya tidak terselamatkan…

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s