Fun Writing

Ning…


Sumpah aku tidak menyangka banget bakal ketemu dia di sini! Di resepsi pernikahan sepupuku… Ah, betapa dunia ini sempit. Aku pikir, pindah kota, pindah sekolah, pergi dari masa lalu ke hari-hari ini akan membebaskan bayangan dan kenangan. Ternyata tidak…

“Haii… Ifan?” sapa perempuan yang kala itu bergaun batik. “Apa kabar, kenal juga dengan pengantinnya? Yang mana, laki-lakinya atau pengantin perempuannya?”

Aku tergagap-gagap. Mungkin kalau ada kamera perekam, aku kelihatan cupu banget. Menggaruk kepala yang tak berketombe, meremas jari jemari tak jelas gitu. Ah, pokoknya susah menggambarkan keculunanku deh. Komplit banget perasaanku waktu itu, kaget kok dia ada di sini, terus kok dia kelihatan makin cantik, terus lagi… hadeuuh, pokoknya aku merasa menjadi orang ternista sedunia.

“Haii…” akhirnya hanya kata itu yang keluar dari mulutku. Tentu saja setelah aku terkesima beberapa lama dengan kekacauan pikiran dan ketidaksinkronan tindakanku.

Ning…

Ya, itu nama panggilannya. Jawa banget ya. Aku sebut nama belakangnya saja, Ningtyas. Bila ditulis semua namanya panjang sekali. Entah apa artinya, tapi rasanya adem bila mengucap nama itu.

Perlahan aku mampu menguasai diriku. Bertanya jawab tentang kabarnya, sekolahnya, dan tentu saja teman-teman yang sudah dua tahun ini kutinggalkan. Dulu aku dan Ning satu sekolah di sebuah SMA swasta di Malang. Aku bukan asli sana, tapi tugas ayahku membuatku menjadi bagian dari kehidupan kota yang menyenangkan itu. Apalagi ada Ning…

“Kamu belum jawab pertanyaanku…” dia mengingatkanku dengan tatapan yang membuatku tak kuasa untuk membalasnya.

“Pertanyaan yang mana? Pertanyaanmu banyak sekali…” kilahku.

“Kenapa kamu tak pernah balas sms-smsku?”

“Oh, kan nomerku ganti, Ning… aku belum kasih tahu kamu ya?” tiba-tiba saja aku punya jawaban yang kena banget! Memang nomer hapeku ganti sejak pindah ke Jakarta. Aku tidak bohong kan… Aku pun memberitahu nomer hape baruku kepada Ning. Aku menyebutnya, Ning menuliskannya di BB-nya. Seperti biasa, dia miscall aku.

“Itu nomerku, harusnya kamu inget lho…” katanya sambil senyum.

Ning, Ning…

Dulu ketika aku baru masuk SMA itu, Ning adalah orang pertama yang langsung menyita pandanganku. Ning jadi dirigen aubade upacara bendera hari pertama aku masuk sekolah. Aku yang semula tak bergairah, memilih berbaris di deretan belakang, dengan sesekali jongkok dan istirahat di tempat saat yang lain sigap dengan sikap sempurna. Melihat langkah Ning, yang waktu itu belum kuketahui namanya, tiba-tiba aku menjadi tersihir. Mataku dijerat seketika. Apalagi ketika dia naik ke sebuah undakan, dan tangannya mengayun memandu paduan suara. Ah… tanpa sadar, aku turut menyanyikan lagu Indonesia Raya.

“Ssstt… ngapain ikutan nyanyi!” teman sebelahku menegur.

Aku hanya tersenyum. Ah, luar biasa pesona sang dirigen itu. Rasanya, aku ingin upacara itu penuh dengan lagu-lagu saja. Apalagi, setelah aku menggeser beberapa teman di barisan, aku mendapat tempat yang paling pas memandang sang dirigen itu. Meski agak menyamping, tapi dia dengan baik membagi wajah dan senyumnya ke kanan dan ke kiri dengan merata. Aku ingin sekali, waktu berhenti ketika wajahnya menghadap ke arah barisanku.

Upacara selesai, semua murid baru berkumpul sesuai kelasnya. Dan aku? Terlantar… Seharusnya sehari sebelum masuk, semua calon murid baru masuk untuk mendapatkan pengarahan dan melihat di kelas berapa dia masuk. Tapi aku langsung masuk hari pertama dan tidak tahu aku masuk kelas mana…

Setelah mencari tahu, ternyata aku masuk kelas X-2. Nah lho, tadi aku ikut di barisan kelas berapa ya? Aku cengengesan sendiri. Setelah aku tahu, aku ternyata nyelip di barisan bukan kelasku. Ya sudah, pengalaman hari pertama yang menarik.
Hari pertama itu memang ajaib banget… Pertama masuk, aku langsung terpesona sama dirigen aubade itu. Kedua aku salah barisan dan tetap pede. Ketiga, Tuhan memang Maha Baik. Ternyata eh ternyata, makhluk manis yang jadi dirigen waktu upacara sekelas sama aku. Maka lengkaplah sudah keindahan hari pertamaku di SMA.

“Eh, kok bengong? Nyesel ya, sekarang aku cantik…” Ning menggodaku.

Aku mati kutu, lalu lalang para tamu dan undangan pernikahan sepupuku tak membuatku bisa mengalihkan rasa canggungku. Aku hanya bisa tersenyum. Senyum kecut…

“Kamu sih, pergi begitu aja…” katanya lagi. “Fesbukku juga nggak kamu add… kenapa? Kamu ngilang kayak ditelan tsunami…”

Aku memang pernah menyatakan rasa cintaku pada Ning, tapi aku harus pindah sekolah waktu kenaikan kelas. Ayahku pindah tugas lagi, kembali ke Jakarta. Apa daya, aku harus turut serta, padahal aku terlanjur mencintai Malang, mencintai Ning… Ah, andai Ning tahu. Tapi sudahlah, Ning nggak perlu tahu.

“Iya, kamu makin cantik…” akhirnya aku mengeluarkan kata terbaik dari hatiku.
Ning tampak tersipu, sorot mata itu seperti yang dulu. Dua tahun lalu, aku pernah menikmati sorot mata milik sang dirigen aubade hari pertama SMAku dulu. Membersit bersama rasa yang juga dulu kumiliki ketika Ning menjadi orang terdekatku. Mungkinkah di tempat ini semua itu kembali bersemi dan dimulai…

“Ning, ayo kita pulang…” seorang laki-laki seumuranku langsung menggandengnya. Membawa Ning pergi, meninggalkan punggungnya untukku. Aku takluk dalam kecewa. Namun beberapa langkah ia menoleh, melempar senyum… setelahnya, sms darinya menghampiri hapeku.

~ masih ada waktu…

* terinspirasi sahabat kecilku Ning, setelah puluhan tahun tidak bertemu. Pernah dimuat Majalah Story dengan judul Masih ada Waktu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s