Story & History

Emha


Menokohkan seseorang bagi saya selalu pada ukuran, ’Tidak semuanya baik dan tidak semuanya jelek. Manusia tidak ada yang sempurna.’ Ini ucapannya Nurcolish Madjid ketika saya ketemu langsung di UI beberapa saat sebelum gempa reformasi melanda Indonesia.

Ya, dulu saya sempat menduplikasi sedemikian rupa agar serupa dekat gaya dan penampilannya sang idola. Walau dengan cepat saya menyakini bahwa yang penting justru pergaulan hakikatnya. Bagaimana meniru ’proses menjadi’-nya tokoh idola itu daripada sekadar menduplikasi yang artifisial.

Akhirnya dari Emha Ainun Nadjib, saya banyak sekali belajar. Saya membaca semua bukunya, saya menunggu terbitnya, mendatangi launching dan bedah bukunya. Tidak terhitung kehadiran saya di setiap acara Emha selama masih terjangkau dari Jakarta.

Saya merasa akrab, karena saya mendapat banyak.

Tidak fisikal, tegur sapa saya dengannya ala kadarnya. Kalaupun dijelaskan kita pernah ketemu di sini, di sana, waktu itu, pasti dia sudah sangat lupa. Lagi pula sangat tidak penting buat saya. Dikenali atau tidak. Itulah salah satu alasan saya tidak pernah mau berdesak-desak, memaksa diri untuk sekadar berfoto bersama. Karena logika sederhana saya bilang, idola atau tokoh itu sangat sibuk, bertemu dengan banyak sekali orang. Jadi walaupun fotonya kita pigura dan pajang di ruang tamu depan, saya tidak terlalu yakin, idola kita masih ingat bila dia bertemu kembali. Sementara kita sedemikian rupa memperlakukannya…

Tidak salah, tidak masalah. Itu pilihan saya saja…

Dari Emha saya belajar ’membaca’ buku sampai tuntas. Slilit Sang Kiai yang dilaunching oleh Mas Putut Wijanarko (yang akhirnya saya berkesempatan sepayung perusahaan di Mizan) dan dibedah Mas Jamal D. Rahman di Gedung YTKI, Jl. Gatot Subroto itu salah satunya.

Saya membaca Emha sebagai sebuah karakter! Dia berpuisi, menulis cerpen, artikel dan esai. Tapi dia juga shalawatan dan membuat saya shalawatan. Saya merasa banyak belajar darinya. Tanpa dia tahu. Saya diam-diam saja. Dari membaca bukunya, tulisannya di media, maupun penampilannya di berbagai forum. Saya merasa menemukan model. Bacaan saya bukan lagi hanya buku, artikel, atau tulisan saja, tapi kegelisahan, realitas kehidupan, baik yang horisontal kemanusiaan maupun yang vertikal transendental.

Satu hal lagi, Emha memberi saya sebuah spirit untuk terus bergerak! Ya, memberikan dirinya bagi kemanfaatan orang banyak. Mewakafkan diri, istilahnya… meski dalam skala yang kecil saja. Emha adalah inspirasi saya untuk bergerak, pergerakan menuju hakikat dengan cara yang sederhana.

Maka, siapa tokoh yang berpengaruh untukmu…

Saya akan menyebut, “Salah satunya, Emha Ainun Nadjib.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s