Ibu

Seribu Pesan Tak Cukup #4


Jangan Bikin Repot

Semalam ada tamu, dia tertahan dari jam tiga hingga aku pulang kantor sekitar jam delapan malam. Salah satunya kenapa dia bertahan begitu lama, selain… ”Disuguhi makanan mulu, jadi betah deh…” ujar perempuan muda itu, ia juga ingin bertemu denganku. Orang yang hanya dia dengar namanya, baca tulisannya, dan melihat foto serta kekonyolanku di jejaring sosial…

”Ah, tidak terlalu gemuk…” begitu komentar pertamanya.

”Iya, sejak  ngurusin ibu di rumah sakit, aku turun beberapa kilo…” jawabku. Seperti dikabari lebaran sebentar lagi dan THR cair secepatnya, alangkah bahagianya aku dibilang tidak terlalu gemuk. Walau artinya masih saja gemuk, meski tidak terlalu…

Setelah beberapa pembicaraan, satu bab menukik ke masalah pengasuhan anak. Halah… dia kira aku pengasuh anak kali. Pertanyaannya sederhana, ”Mas, saya mungkin anaknya hanya akan satu…” katanya. Aku sempat berkerut tanpa ingin bertanya lebih jauh kenapa bisa begitu kesimpulannya. ”Saya pengen tahu, gimana sih dulu ibu Mas Taufan mendidik sampai bisa ******* seperti sekarang…”

”Salah satunya aku dilibatkan sedini mungkin dalam setiap aktifitas ibu…”

Lalu aku memberi beberapa contoh. Aku akrab dengan pekerjaan dapur, dari mengiris bawang, menanak nasi, memasak menu paling sederhana hingga mencuci perabotan setelahnya dan menyajikannya di meja makan. Itu mengapa, alasan ibuku ingin punya dapur yang luas. Karena di situlah dia memberikan kuliah kecekatan dan kesigapan atas pekerjaan domestik pada anaknya.

”Apa pun yang aku lakukan di dapur, bukan sebuah gangguan buat ibu…” jelasku, ”Segala bentuk bantuan terkecil sekalipun, semisal mengambilkan apa… selalu dihadiahi ucapan terima kasih dan senyum…”

Perempuan muda, ibu muda satu anak itu menyimak saksama. Bayangan perempuan mulia, ibu yang sangat aku cinta hadir merobek rasa. Terasa baru saja dia mengenalkan nama-nama bumbu dapur padaku. Seperti baru saja aku mengusap air mataku yang menangis karena jariku kena pisau. Atau mataku panas dan berair karena mengucap mata setelah mengupas bawang merah… Tangan ibu masih begitu terasa mengusap air mataku. Mendekapku hangat, menenangkan bahwa tak ada yang berbahaya karena itu semua. Kejadian puluhan tahun lalu itu, terasa baru saja terjadi beberapa hari lalu…

Jernih aku mengingatnya, perih rasa menyertainya…

Teranglah kuburmu Mam… doaku menyerta selalu tanpa jeda waktu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s