Ibu

Seribu Pesan Tak Cukup #3


Jangan jadi Pengecut!

Dulu sekali waktu masih sekolah dasar… aku pernah mogok sekolah. Beberapa hari aku nggak masuk. Apa pun pertanyaannya, jawabannya pokoknya nggak mau! Nggak mau… Kalau nggak salah inget, ketika kelas dua.

Sepupuku yang sekelas dan sering berangkat bersama, tidak tahu juga sebab musabab kenapa aku mogok sekolah. Diomeli guru tidak, dimusuhi teman tidak, semua perkiraan yang mungkin membuat aku mogok jawabnya tidak… Dua hari lewat, tiga hari berbilang. Aku masih tenang dengan mogok sekolahku.

Semua buku catatan dan buku peerku diperiksa. Tidak ada yang janggal dan mengarahkan sebab kenapa aku mogok. Tas sekolah digeledah, tidak ada yang berbahaya apalagi petunjuk yang mengarah pada kenapa aku mogok.

”Kenapa? Kamu udah pinter, nggak mau sekolah lagi…?”

Aku menggeleng. Aku merebus air mata sendiri. Mataku panas. Ingin mengaku tapi takut sekali. Sebuah kesalahan yang membuatku takut luar biasa. Aku takut dikeluarkan dari sekolah, takut diomeli petugas kebersihan sekolah, takut dipanggil ke kantor guru, dan takut dipermalukan teman-teman…

”Kamu bikin salah?” tanya ibu.

Aku perlahan mengangguk.

”Sekolah itu biar kamu pinter, sayang…” katanya lembut, ”Kalau kamu bikin salah, nggak apa-apa…”

Aku menatap wajah ibu. Ujung bibirnya mengembang. Senyum kecil yang damai di mataku, teduh di hatiku. Menggulung rapi gemuruh di dadaku.

”Kamu nakalin siapa?” tanyanya.

Aku menggeleng. Lalu kuseret tangan ibu, kuajak dia ke sekolah sore itu. Sekolah sepi. Aku membawa ibu ke belakang kelas. Aku tunjukan sesuatu…

”Kamu yang mencoret-coret dinding ini?” tanyanya.

Aku mengangguk pelan dan hampir menangis.

”Nggak apa, besok kamu bilang sama bu guru, Ibu temani… anak Ibu harus kesatria, berani berbuat, berani bertanggung jawab…”

Entah apa yang dibicarakan ibu dengan guru yang tersisa di sekolah sore itu. Besoknya Ibu mengantarku ke sekolah dan menghadap kepala sekolah yang kebetulan masih adik nenekku. Disaksikan orang di ruangan itu, kedipan mata dan senyum ibu dalam tengokan terakhirku, menguatkanku untuk bilang…

”Maaf, saya yang mencoret-coret dinding itu…”

Berat sekali rasanya hanya mengatakan satu kalimat itu. Tapi tepuk tangan dan peluk cium segera menghampiriku. Sungguh, ibuku tak ingin anaknya jadi pengecut.

Semoga lapang kuburmu, Mam… doaku mengiring serta setiap waktu…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s