Ibu

Dari Sebuah Perjalanan #1


Sungguh perjalanan tidak hanya membuat kita paham sesuatu, tapi juga mampu mengulik serta kenangan yang diam-diam menyelinap dalam ingatan kita. Meskipun itu perjalanan sederhana…

Perjalanan ke Kota dengan busway buat saya bukan sekali dua kali. Namun kali ini menjadi berbeda, karena saya membawa serta banyak kerinduan. Pertama kerinduan pada teman-teman yang lama tidak bertemu sejak liburan puasa hingga lebaran. Meski hanya beberapa pekan, tapi jeda liburan itu terasa juga menumbuhkan kekangenan. Kali ini saya akan bertemu teman-teman komunitas menulis saya di Museum Mandiri, Kota dalam rangka halal bihalal dan silaturahim.

Kedua, saya memang sedang dalam posisi rindu berat sama mendiang ibu. Entah berapa kali berulang lagu Mother How are You Today mengalun di speaker komputer kerja saya sebelum pergi. Perasaan melankolis ini terbawa dalam perjalanan naik busway koridor satu Blok M – Kota yang melintas Jalan Majapahit, Jalan Gajah Mada, dan Jalan Hayam Wuruk di seberangnya.

Begitu banyak kenangan bersama ibu sepanjang jalan itu. Dulu kami sempat tinggal di salah satu pemukiman padat di Mangga Besar. Saat ibu masih kerja di rumah sakit di Mangga Besar dan menjadi asisten praktik dokter ahli akupuntur di Pasar Baru atau sekarang Passer Baroe. Sehingga banyak getaran yang membuat saya teringat kebersamaan dengan mendiang ibu.

Semula saya hanya membatin, dulu saya sama ibu makan ini di sana, makan itu di situ… dulu saya antar ibu beli blender di Gadjah Mada Plaza, banyak, banyak… Ingatan itu terus menelusup di sela-sela pandangan yang melintas. Saya ingat, ibu tergopoh-gopoh pagi-pagi pergi demi sebuah ramuan cina untukku setelah kami tinggal di Cileduk. Untuk anaknya yang sudah keracunan zat adiktif. Saya ingat sekali… wajah ibu ketika bilang, “Minum ini ya, biar badanmu kuat… kan kamu kuliahnya jauh…” Tidak bilang agar racun itu kalis dari darah dan tubuhku. Ibu yang hebat!

Allahumagfirlii waliw walidaya warhamhumma kamma rabbayani shagiira…

Teringat masa sulit ketika kami harus berpisah sementara… Saya di Depok dan ibu harus kerja di Kota. Demi mengirit ongkos dan tenaga, kami bersepakat, saya di rumah sendiri, sekolah dan mengurusi diri sendiri, ibu sehari dua hari sekali pulang sesuai jadwal dinasnya… sedih banget! Tapi begitulah cara paling moderat untuk mengatasi kesulitan ekonomi dan keuangan keluarga karena beban biaya rumah sakit sepeninggal ayah saya.

Meski begitu, beliau tidak mengurangi uang jajan saya, dan selalu meninggalkan rumah dengan logistik yang cukup…  “Walaupun kita kekurangan, tapi kamu masih bisa makan layak, Sayang…” katanya kalau kami berkesempatan sarapan atau makan bersama. “Sekurang-kurangnya kita, nggak pernah kan kamu makan sama garem aja, atau sama telur asin dibelah empat…” Ah… matanya menatapku dengan penuh sayang.

Begitulah cinta dipertumbuhkan…

Sedemikian canggih seseorang ditumbuhkan menjadi dewasa oleh keadaan. Selalu ada pelangi setelah hujan, walau kadang kita lelah dan agak kurang sabar menanti hujan di sebuah kemarau yang panjang…

Ibu adalah mata air yang sering sekali membuat mataku berair…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s