Story & History

Catatan Cinta #1


Mengawali dengan Cinta

Entah kapan pertama kali saya mengenal kata ini. Lebih tepatnya mendengarnya. Hinggga kemudian bertemu dengan beberapa aktifitas dan perilaku yang termasuk dalam kriteria tersebut. Konon, berbakti sama orangtua, meski hanya simbolik dengan mencium tangannya saja setiap pergi dan pulang ke rumah, itu masuk dalam kategori cinta. Cinta kepada orangtua, karena orangtualah sumber cinta. Begitu konon kisah cinta berawal…

Sederhana ya, cinta itu…
Walau menjadi sangat rumit manakala ditarik ke wilayah yang lebih sederhana. Hubungan laki-laki dan perempuan, baik yang baru mau puber, sedang puber, atau pasca puber. Cinta menjadi rumit luar biasa. Yang sederhana menjadi tidak sederhana. Karena memang dibuat untuk tidak sederhana. Kalau tidak rumit, maka itu bukan cinta. Pokoknya cinta harus rumit, kudu ruwet, dan mesti berbelit-belit.

Cinta akhirnya melahirkan rasa iri, dengki, cemburu, bahkan yang paling menyedihkan membuat kata benci menjadi lawan katanya. Benci menjadi lawan tanding, dan parahnya bila dibumbui, benci menjadi sebuah perlawanan yang membalik makna dan hakikat cinta. Ada yang bilang, benci tanda cinta. Kata siapa?

Cinta ya cinta, benci ya benci…
Jelas sekali beda. Mencintai dan membenci dua kata berbeda dalam definisi artifisial maupun hakikatnya. Baik secara denotatif dan konotatifnya. Tapi begitulah, siapa pun punya kewenangan menerjemahkannya. Meskipun sebaiknya ada kesepakatan memaknai. Dan kesepakatan memaknai itu juga cinta kan? Mestinya begitu…

Seringkali, dalam kebodohan saya, mencoba menghadirkan definisi cinta yang sangat sederhana. Cinta itu menyederhanakan, kerumitan meluluh. Melepas simpul-simpul yang saling menjerat, mengurai kekusutan. Sehingga mencintai, artinya ketika ia menjadi kata kerja dalam perilaku, pemikiran, dan daya hati… mencintai itu solutif. Mencintai berarti saling memberi jalan keluar. Artinya lagi cinta menolong diri sendiri, orang lain, maupun keadaan kepada jalan keluar.

Cinta dan mencintai, mestinya menyelesaikan masalah. Bukan sebaliknya…
Tapi bila pilihannya, mencintai dengan kerumitan dan menjadi rumit ya silakan.
Saya seringkali merasa memiliki cinta, tapi kok ternyata bukan cinta. Karena saya menjadi arogan dan posesif. Cinta pasti positif, kalau outputnya negatif, menurut saya, pasti ada yang keliru. Meski menurut pihak lain benar. Cinta tak hanya mengoreksi, tapi cinta pasti melahirkan kasih sayang, bukan kesewenang-wenangan. Apalagi memaksa orang untuk turut dan tunduk. Cinta memiliki bahasa yang santun, tidak pendek dan tajam-tajam menikam. Cinta adalah dialog hati…

Sungguh mati, saya ingin memulai segala apa pun dengan cinta. Kemudian menumbuhkannya, menjadikannya sublim dalam hati, pikiran dan perilaku. Konon cinta juga membelah diri untuk sabar dan terus berusaha. Itulah sebabnya, cinta harus dimulai dengan kesabaran dan usaha untuk terus sabar berjuang. Tentu juga mengusahakannya menjadi persembahan menuju aras cinta, menuju altar sang pemilik cinta. Sehingga cinta tak perlu berkorban! Karena cinta dan mencintai pasti mengikhlaskan…

Awali semuanya dengan cinta dan meluluhlah selainnya…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s