Sudut Pandang

[Bahasa] Isti’jal


Saya mengenal kata ini dari seorang teman, dulu sekali hampir enam tahun silam. Noraknya saya, tidak lagi bertanya apa maknanya. Padahal tahu apa saya bahasa Arab, kecuali salam dan sepaket tahlil, tahmid dan takbir. Ada sih beberapa kata lain seperti syukron dan thayib... selainnya, jangan tanya lagi. Padahal penguasaan bahasa Arab vital sekali buat saya, tapi begitulah… saya masih termasuk orang yang mementingkan hal yang tidak penting dan menidakpentingkan hal yang sungguh sangat penting.

Moga-moga sampai ujung tahun 2010 ini, hanya tinggal saya manusia di dunia ini yang memiliki mental mementingkan hal-hal yang tidak penting. Dan syukur pemerintah punya program mementingkan hal-hal yang penting daripada mementingkan kepentingan-kepentingan yang kelihatannya penting, tapi sama sekali tidak penting, hanya karena beberapa kepentingan saja sehingga tampaknya penting. Soal kepentingan memang relatif, kalau saya sih tidak punya kepentingan apa pun kecuali menanggungjawabi tugas dan kewajiban yang melekat pada diri saya.

Karena walaupun tidak penting diungkapkan, tapi penting diketahui apa saja konsekuensi, hak dan kewajiban yang turut serta melekat dalam diri kita. Sedikitnya kita punya beberapa status yang sulit dipisah. Karena sudah include dari karoserinya. Pertama sebagai hamba Tuhan. Kemudian sebagai anak ibu dan bapak, lalu sebagai suami atau istri, sebagai tetangga, sebagai kakak, sebagai adik, sebagai warga masyarakat, sebagai karyawan institusi yang menggaji kita, sebagai, sebagai… banyak! Semakin banyak peran yang melekat, semakin banyak kepentingan yang harus dipertimbangkan untuk tidak lagi berbuat dan berpikir asal-asalan dan terburu-buru.
”Baik tapi terlalu isti’jal…” kata teman saya waktu itu. Teman yang mengenalkan kata isti’jal itu. Anak lulusan universitas di Jawa Timur, santri, santun dan pintar. Setidaknya, IPK-nya mendekati angka sempurna untuk membuktikan dia pintar.

Buru-buru atau tergesa-gesa dalam bahasa yang saya pahami, tentu saja mengacu pada kamus kebanggaan saya, KBBI. Memakna isti’jal yang sulit saya lafalkan. Tergesa-gesa atau terburu-buru bermakna ingin cepat-cepat, tergopoh-gopoh, ingin segera lekas. Mungkin secara positif, ingin segera menyelesaikan tanggung jawab, baik pekerjaan atau tugas-tugas itu baik. Tapi bergegas-gegas dalam berpikir dan bertindak yang menyangkut dengan multiperan yang kita miliki bisa fatal akibatnya.
Maka bersikap tenang, tidak terburu, dan tergesa adalah sikap bijak. Pikir ulang, lihat lagi, dan pertimbangkan kembali. Saya merasa, belakangan ini sering terburu, tergesa, dan tergopoh. Ciri tingkah laku setan, kata ustadz di podium tarawih beberapa malam lalu. Saya yang merasa tercerahi kutbah pendek itu, memaksa diri untuk bertindak dan berkata hati-hati.

Entah untuk apa saya terburu-buru. Untuk tujuan apa saya tergesa, mengapa saya harus tergopoh, saya tidak tahu. Saya yakin, semua untuk kebutuhan manusia belaka. Urusan dunia semata. Karena saya masih tenang duduk saat azan memanggil. Bahkan saya tetap diam terpaku, saat waktu shalat hampir saja habis untuk masuk waktu shalat berikutnya. Saya sama sekali tidak bergegas…

Jadi isti’jal saya untuk apa? Keterburu-buruan yang absurd!
Semoga Allah mengampuni saya, untuk membalik keterburuan itu pada ketaatan pada-Nya. Kepada setan yang terkutuk, silakan ketergesaan itu jadi milik dan jobmu saja. Saya tak ingin mengambilnya…

“Yaa ayya tuhannafsul muthmainnah. Irrji’ii ilaa Rabbiki radhiyatan mardhiyah. Fad khulii fi’ibaadi. Wad khuli jannatii” Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku. Dan masuklah ke dalam surga-Ku. (QS Al Fajr [89]:27-30)

Jakarta, 27 Agustus 2010
~ saat istriku milad, semoga tenang jiwamu…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s