Sudut Pandang

[Bahasa] Takut


Teman saya pernah lari terbirit-birit dan tanpa terasa kencing di celana. Jangan dikira teman saya itu kecil. Saya berteman dengannya ketika sudah mahasiswa, dia sudah dewasa, bahkan usianya sebaya kakak saya. Kejadian yang membuatnya tunggang langgang hanya karena keisengan sederhana saya. Sekadar cara saya mengakrabkan diri dengan teman-teman baru di tempat tinggal baru saya.

Salah satunya, berburu tontonan yang menjadi tradisi dalam hajatan orang-orang asli pinggiran kota. Biasanya mereka menghadirkan lenong –seni tradisional Betawi—, orkes dangdut, atau layar tancap. Akan lebih megah bila ahlul hajat, pemangku hajatnya orang yang terpandang, tokoh masyarakat, dan orang yang memiliki pengaruh di tempat itu. Tinggal kita saja menyiapkan stamina untuk maraton melihat suguhan hiburan yang bisa tiga hari tiga malam tak berhenti.

Nah, malam itu, saya tidak ingat betul berapa, tapi lebih dari lima orang. Samar-samar mendengar suara layar tancap. Tidak jelas posisi persisnya. Karena gemanya bisa menipu pendengaran siapa saja. Apalagi tidak ada di antara saya dan teman-teman itu yang memiliki perbendaharaan ilmu mengendus dengan tepat posisi itu. Maka, sepakatlah kami berjalan ke arah yang dianggap sumber suara, tempat tontonan itu ada.

Singkatnya, kami berkali-kali salah sasaran. Salah arah berjalan! Tak terhitung sudah berapa kilometer perjalanan itu. Akhirnya ketemu juga, sebuah layar tancap di kampung cukup jauh dan asing dari tempat kami tinggal. Tidak ada hal yang berarti untuk dilakukan di sana, bukan untuk nonton film yang sudah berulang kali diputar dengan suara sengau. Hanya untuk makan uli bakar, lepet, dan ngopi… Sesudah itu, ya pulang. Nah, pada perjalanan pulang ini, kami melewati jalan setapak yang rimbun. Saya menyelinap diam-diam melewati orang yang paling depan. Lalu ketika mereka mendekat, saya goyangkan semak-semak itu. Dan ternyata…

Teman-teman saya lari tunggang langgang ketakutan.

Tidak semua ketakutan. Tapi orang yang saya kira bukan penakut, ternyata larinya paling kencang dan berusaha untuk paling depan. Tentu saja, setelah tahu saya tertawa-tawa dan tahu saya yang melakukan, beberapa dari mereka mencaci maki saya. Serapah dari napas yang terengah pun tumpah ruah.

Saya sendiri bukan seorang pemberani. Saya punya rasa takut. Cuma berusaha meletakkan ketakutan sewajarnya. Misal, takut dipecat karena sering telat dan target pekerjaan tidak sesuai deadline. Takut celaka, karena sepeda motornya tidak dipenuhi hak servis dan istirahatnya. Takut terjebak di lift lagi, karena pernah terjadi saat saya sedang sendiri di lift, dan listrik mati! Tentu sebagai orang yang mengimani Allah Swt dengan segala kekuasaan-Nya, saya harus takut kepada semua kemahaan-Nya. Takut pada penglihatan-Nya yang menembus ruang tergelap sekalipun. Takut akan murka-Nya karena pengkhianatan saya atas rezeki melimpah yang sudah diberikan-Nya.

Tidak takut polisi dong? Tidak takut presiden dong? Mungkin dilihat konteksnya. Polisi seharusnya tidak menakutkan dan tidak menakut-nakuti. Saya pernah kena gebuk polisi ketika zaman orde baru, karena turut serta dalam sebuah demonstrasi yang belum marak seperti sekarang. Tapi, saya juga pernah mendapat pinjaman mobil ketika menikah, dari salah seorang tante saya yang polisi. Kalau sama Polantas, ya saling menaati aturan saja. Sebagai pengendara, siapkan semua syarat berkendara. Selesai. Sama Presiden, kenapa harus takut. Kan presiden hanya lima tahun saja, tahun keenam dia jadi orang biasa lagi, kan. Kalau tidak ikut pemilihan presiden dan terpilih lagi.

Sering kali yang terjadi, ketakutan atau takut tidak pada tempatnya. Dan yang paling bodoh adalah takut sandal atau sepatu hilang ketika kita sedang shalat di masjid atau mushala. Kita tidak takut pada Allah, bahwa kita tidak serius menghadap-Nya hanya karena sandal yang lupa dititipkan. Jangan-jangan kita tak tahu makna kata takut itu sendiri. Sehingga, meski sudah haji, masih korupsi. Meski sudah tahu salah tetap saja dilakoni. Meski sudah tahu buntutnya buruk, tetap saja diturut…

Saya membuka kamus, saya membaca tesaurus bahasa Indonesia, banyak rupa makna takut. Maka, saya tidak akan menuliskannya. Karena takut tulisan ini kepanjangan, takut tidak menarik, takut memanjakan pembacanya karena malas membuka dan mencari makna takut. Silakan saja, buka di halaman 632 Tesaurus Bahasa Indonesia-nya Mas Eko Endarmoko. Atau di halaman 997-998 Kamus Umum Bahasa Indonesia susunan W.J.S. Poerwadarminta terbitan Balai Pustaka tahun 1984. Kalau KBBI ya… lihat sendiri. Yang pasti saya takut mati tanpa bekal yang cukup, hidup saya tidak terlalu serius…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s