Sudut Pandang

[Bahasa] Harta


Ini petuah lama, semacam rambu-rambu agar kita istiqamah. Lurus di jalan yang direstui Tuhan, dipercayai teman, sahabat, dan kerabat, serta tidak melampaui kepatutan. Konon, godaan terbesar seorang laki-laki itu harta, tahta, dan wanita. Cerita tentang kejatuhan seseorang di ranah pesona tiga ta ini luar biasa banyaknya. Dari politisi calon menteri yang terjun bebas dipelukan penyanyi dangdut yang video pornonya meluas kemana-mana, hingga seorang pengamen yang gegar budaya, kaget bukan kepalang karena uang dan popularitas telah membiusnya. Melemparkan dirinya pada titik nadir kemanusiaannya.

Mari kita lihat, apa sebenarnya harta itu…

Betapa semua tontonan sandiwara di layar kaca nyaris bermula dari tema ini. Harta! Bagaimana konflik dibuat sedemikian rupa dari cara mencarinya, memilikinya, dan menguasainya. Sebagai orang yang pernah terlibat, walau tak intens, dalam produksi sinema televisi, saya mau tidak mau, suka atau tidak suka, harus masuk dalam lingkaran pikiran yang berkutat pada tema seperti itu. Dan hingga hari ini, betapa banyak varian tema itu. Pesona harta…

Apakah saya juga terpesona?

Ya! Itu jawaban jujur saya. Karena saya membutuhkannya. Munafik dan hipokrit sekali kalau saya mengingkarinya. Bohong besar kalau saya tak butuh harta. Bagaimana saya bisa memenuhi hajat saya dan keluarga saya. Persoalannya, sejauh mana saya meletakkan harta dalam diri saya. Alhamdulillah, saya betemu dengan orang bijak yang menasihati bukan hanya dengan petuah kata-kata. Tapi dengan contoh nyata.

”Cukup letakkan hartamu di tanganmu, jangan taruh di sini…” katanya sambil menunjuk dadanya. Hati yang dia maksudkan. Jangan letakkan hartamu di hatimu, begitu kira-kira kalimat lengkapnya.

Teman saya pernah kehilangan sepeda motor barunya yang diparkir di teras kos-nya. Ekspresi kagetnya tidak lama, dia hanya menyebut, innalillaahi wa inna ila’ihi raji’un. Setelah shalat maghrib, saya dan beberapa teman mengantarkan membuat laporan kehilangan di kantor polisi. Sama sekali tidak ada emosi berlebihan. Saya heran ketika dia bilang, ”Mungkin ini cara Allah mengingatkan saya, mungkin juga cara terbaik untuk menggantinya dengan yang lebih baik…”

”Walaupun harus kembali naik angkot?”

”Ya, bisa jadi… hanya Allah yang tahu…”

Lalu di waktu lain, saya dihadapkan pada kenyataan, betapa harta tak bermakna apa-apa. Saya melihat sendiri, terlibat langsung, dan begitu dekat dengan makna itu. Rumah besar dengan segala isinya, ditinggal begitu saja. Tempat tidur yang nyaman, tak lagi terselamatkan. Banjir telah merendam semua harta benda miliknya. Mungkin harta yang paling dicintainya…

Di pengungsian, saya melihat aneka reaksi.

Karena kali ini tak beda lagi si kaya dan si papa. Semua bersandar di tembok dengan rasa sama, tikar yang mereka duduki sama, selimut yang mereka pakai mirip, dan makanan yang mereka santap, asalnya sama dengan lauk yang tak beda. Dalam diamnya, saya hanya mereka-reka pikiran mereka. Ada wajah yang sangat menyala, memercik api, marah dan tak bisa menerima kenyataan yang menimpanya. Tak sedikit yang gelisah. Walau ada yang teduh, menggambar pasrah, bahwa apa yang terjadi padanya, adalah hal terindah dari Allah. Saya melihat dengan sangat dekat…

Terakhir, saya tak hanya melihat lebih dekat. Tapi merasa lebih dari sekadar dekat. Ketika kakek dan nenek saya tiada. Maka tertinggallah semua yang dimilikinya. Bersyukurlah saya, karena anak-anaknya cerdas lagi dalam pengetahuan agamanya. Sublim, senapas, seperilaku antara dogma dan tindak nyata. Sehingga, semua peninggalan dari hasil kerja kerasnya di masa muda dan kuatnya, semata-mata ditujukan untuk kemuliaan dan jalan terang bagi pemiliknya di alam berikutnya. Menjadi maslahat bagi yang ditinggalkannya.

Tidak menjadi cedera hati atau luka yang mengiris silaturahmi. Seperti biasa terdengar dalam kisah mawaris yang sering berakhir miris. Saya salut, betapa kisah teladan itu, dekat sekali dengan saya. Manakala orang-orang yang saya hormati, meletakkan harta digenggamannya, bahkan di ujung jarinya, bukan di hatinya. Manakala orang-orang yang saya muliakan memberi makna, bahwa harta bukan satu-satunya cara Tuhan memuliakan manusia di hadapan manusia, juga di hadapan-Nya.

** teriring takzim dan doa untuk mendiang kakek dan nenek saya…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s