Sudut Pandang

[Bahasa] Palsu


“Cintamu palsu…” seorang gadis dengan muka merah, marah, meramu juga kesal dan rasa tertipu, mengucapkan kata itu dengan sangat kecewa. Maka yang tertinggal kemudian, laki-laki itu duduk termangu, dengan satu rasa kehilangan! Dan perempuan itu, membawa serta luka atas kepalsuan yang disebutnya itu.

Sepanjang hayat ini, entah sudah sampai pada hitungan ke berapa saya berhadapan dengan kata itu. Palsu! Pada masa lalu, tentu saya pernah mencintai seseorang. Lagi-lagi, saya menyebutnya itu cinta tanpa dasar pengetahuan pasti apa itu arti cinta. Hanya semata-mata terjemahan dari perasaan. Karena anggapan kebanyakan orang. Berdasarkan contoh saja. Bahwa perasaan yang menaut, membuat saya tergila-gila, dan kehilangan akal waras karena seorang perempuan, saya anggap itu cinta.

Bicara tentang kepalsuan, hari ini rasanya lebih mudah menemukannya daripada yang original. Sederhana, di jalanan dekat keramaian, betapa banyak lapak yang berjualan cakram lagu dan film palsu. Walaupun kalau diurut silsilahnya, mengambil, memperbanyak, dan mengambil keuntungan dari perilaku seperti adalah perbuatan kriminal. Apa beda urutannya, dari maling mobil sampai ke penadah yang memretilinya?

Saya mencoba mengingat. Betapa banyak kepalsuan di sekitar kita. Mungkin malah dalam diri kita. Kita yang mengaku beriman, mengimani segala yang harus diimani sebagai hamba Allah, ternyata juga seringkali tergoda untuk lancung. Misal saja, mengimani hari akhir, tapi perilaku kita nyaris tak pernah ada rasa takut akan hari akhir. Syahwat untuk terus memiliki lebih, menguasai lebih, terus membuat seseorang seperti tak bisa berhenti untuk mencapainya tanpa peduli lagi caranya. Justru hanya karena film 2012, sebuah cerita fiksi belaka, riuhnya luar biasa. Kiamat sebentar lagi, kiamat sebentar lagi…

Coba saja, betapa palsunya wajah yang kita bawa setiap hari, hanya karena akan menghadap atasan dan pemegang saham di mana kita bekerja. Gerak bibir, ucapan, olah tubuh, dan pakaian yang dikenakan pun tak biasa. Artifisial, semu, dan imitasi. Hanya karena satu hal, demi suatu tujuan, entah apa itu, kita bisa berubah menjadi pribadi lain, bukan diri apa adanya. Diri yang sehari-hari…

Semoga saja, tidak menjadi lazim, karena cuma urusan ‘uang’ seseorang memilih menjadi palsu, menjadi gadungan. Berapa saja berita tentang profesi yang dipalsukan, merugikan orang banyak dan menistakan kehormatan yang bersangkutan dan keluarga besarnya. Dokter palsu, tentara gadungan, ajudan menteri ilegal, dan banyak lagi. Tidak hanya merugikan, tapi membahayakan. Belum lagi soal dokumen, jangankan sertifikat, stnk, dan ktp palsu. Bahkan dokumen negara pun dipalsukan.  Tentu saja, perangkat sehari-hari yang ada di rumah atau kantor kita. Gas untuk memasak, dipalsukan, diisi angin berair hingga beratnya tetap sama tapi isinya cepat habis. Daging sapi, digelonggong agar tampak besar, tapi menipu konsumen karena dagingnya lembek dan gampang busuk.

Saya hanya ingin mengingatkan, siapa tahu… kata-kata yang saya tuliskan berikut, tidak dimaknai sebagai kepalsuan atau tindakan memalsukan. Hanya karena katanya berbeda. Dalam Tesaurus Bahasa Indonesia, memalsukan itu sama juga dengan melancungkan, memanipulasi, menyulap, membajak, meniru dan menjiplak. Jadi pejabat yang lancung, anggaran atau laporan yang dimanipulasi, proyek yang disulap tidak sesuai bestek dan asal bapak senang, membajak karya orang lain, meniru, dan menjiplak baik pada anak sekolah maupun disertasi. Semua itu adalah kejahatan… kriminal!

Tentu saja, menjijikan…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s