Sudut Pandang

[Bahasa] Bohong


Lies are necessary to life – Nietzche

Saya pernah berbohong. Kepada ibu saya, orang yang sangat saya hormati. Orang yang rahimnya saya diami, untuk sekian waktu lamanya. Diasupi dengan doa dan harapan kebaikan, dipilihkan makanan yang halal, sehat, dan terbaik. Tidak ada, diada-adakan, dicari sampai dapat, bila harus menunda, orang lain akan turut mencarinya. Demi… ya demi janin di rahimnya. Ya, kebetulan itu saya…

Tidak hanya sekali… mungkin juga lebih dari dua kali…

Setelahnya, saya menyesal sekali. Apalagi hal itu membuat ibu saya kecewa. Saya merasakan sendiri apa arti kecewa. Tidak berhenti pada satu kata itu. Tidak saja selesai dengan kata yang terucap. Tapi, kecewa mampu mengubah segalanya. Apalagi bila kecewa sempat tumbuh dalam suburnya hati. Sulit melupakan, sukar dilupakan.

Ujungnya?

Ketidakpercayaan.

Saya hanya sedang menasihati diri sendiri. Kalau saya tega, mendustai orang yang paling saya cintai, sayangi, dan hormati. Logikanya, bagaimana kepada orang lain. Istri saya, teman sekantor saya, kerabat, dan saudara… ah, sedihnya. Ini bukan salah bunda mengandung…

Rahim ibu saya pasti menangis, sesalnya tak usai. Janin yang tumbuh di dalamnya, setelah sekian lama tumbuh menjadi manusia dewasa bergelimang dengan dusta. Rahim ibu saya pasti menyesal, anak yang digadang-gadang –diharap dan dambakan—kok, setelah menjadi manusia dewasa, dengan bekalan ilmu yang cukup, dengan nutrisi tumbuh yang memadai, menjadi bukan manusia.

Ups! Bukan manusia?

Ya, apa masih manusia, orang yang mendustai sesamanya. Bukan demi Tuhan-Nya. Bukan demi kebaikan agamanya atau keselamatan yang maslahat. Tapi demi sesuatu yang sangat remeh temeh. Demi sebuah nama baik, demi sanjung dan puja-puji, demi reputasi, demi harga diri, demi eksistensi, demi ‘kata orang’, dan demi-demi yang sampah lainnya…

Biarlah saya menjadi orang yang bodoh karena takut kepada Tuhan. Daripada menjadi orang pintar, jenius, brilian, tapi tidak memelihara rasa takutnya pada Tuhan. Walaupun kata Ibnu Taimiyah, “Setiap orang yang durhaka kepada Allah adalah orang yang bodoh. Dan setiap orang yang takut pada Allah adalah orang yang pandai lagi taat.”

Saya lebih mempercayai kata-kata orang saleh seperti Ibnu Taimiyah. Karena sejarah mencatat kesalehannya. Bukan kata orang yang tidak jelas, tidak sahih, dan ukurannya sangat normatif bahkan sangat pragmatis. Beda nilai sesuai arah angin membawanya. “Apa yang kau cari sebenarnya?” Hingga dusta demi dusta menggelontor dari lidah, menjadi fitnah, menjadikan kita sampah.

Dalam KBBI Online Pusat Bahasa, bohong bermakna tidak sesuai dng hal (keadaan dsb) yg sebenarnya; dusta, dan bukan yg sebenarnya; palsu (biasanya mengenai permainan). Berbohong berarti menyatakan sesuatu yg tidak benar; berbuat bohong. Membohongi artinya berbohong kepada seseorang atau banyak orang bahkan khalayak; mendustai seseorang atau banyak orang. Semoga Allah mengampuni kesalahan saya di masa lampu, dan memperbaiki diri saya di masa kini. Amin. Karena jelas bedanya. Antara jalan lurus dan jalan gelap….

Terinspirasi lagu Antara Aku, Kau, dan Bekas Pacarmu, Iwan Fals

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s