Sudut Pandang

[Bahasa] Bangsat


Lagi-lagi cerita kampung… Dulu di tempat kakek nenek saya, lazim sekali orang-orang memiliki tempat duduk dan bale-bale di teras atau ruang tamunya. Jadi terasa sekali hangatnya silaturahim di antara penghuni kampung itu. Kita diperkenankan duduk bersila, atau menaikkan salah satu kaki. Ngobrol sepuasnya, sambil menikmati kopi dan ketan goreng atau kue semprong.

Cerita apa saja bisa jadi ramai dan dramatis, bahkan bisa berseri-seri seperti serial drama radio. Lucunya, atau serunya lagi, bila pelupuh-nya (alas bale-bale yang terbuat dari bambu belah dan dicacah-cacah kemudian dikeringkan) menjadi sarang tengu! Itu nama lain dari kepinding. Hewan kecil yang kalau mengigit gatalnya minta ampun! Terbayang, ngobrol, ngopi, sambil garuk-garuk sepanjang malam.  Karena bentol akibat gigitannya lumayan ampuh untuk membuat seseorang menjadi atraktif dan terus menggerutu. Saking gatalnya.

Kalau belum ngeh apa itu kepinding, mungkin Anda lebih akrab dengan nama lainnya; bangsat! Karena satu nama ini turut dipopulerkan di rapat Pansus Bank Century, di gedung DPR Senayan oleh wakil rakyat yang (konon) terhormat. Kalau merujuk Tesaurus Bahasa Indonesia-nya Eko Endarmoko, bangsat memiliki beberapa makna. Bangsat n 1 kepinding, kutu busuk, pijat-pijat, tumbila; 2 cak bajingan, bajul, bandit, bromocorah, cecunguk, durjana (kl) gali, jaharu (kl), pencoleng, penjahat, perewa (Mk), perisau, preman(cak)residivis; 3 anjing, babi, binatang, kunyuk, monyet; bedebah, cecunguk, jahanam, keparat, sialan, terkutuk (umpatan).

Nah, kalau Anda sempat melihat muka merah, raut wajah yang marah dari salah satu anggota dewan yang dikatai bangsat. Karena, beliau yang guru besar dan ahli hukum itu, walau tak tahu semua padanan maknanya seperti disebut di atas, setidaknya ia pasti tahu maksud dan maknanya. Apalagi pelafalan dan pengucapannya dengan tekanan yang cukup tinggi.

Seingat saya, pertama mendengar kata itu, dalam tekanan yang serupa, ketika saya sekolah menengah. Tentu tidak oleh orang intelek dan direkam televisi, lalu disiarkan berulang kali. Karena kejadiannya di jalanan, manakala lalu lintas begitu ricuh, tak bertuan, dan sebagian sopir serta awaknya merasa menjadi raja jalanan. Maka ia serasa memiliki wewenang untuk mengeluarkan makian semacam itu kepada kompetitornya atau pihak lain yang dianggap menggangu atau menghalanginya.

Sebenarnya saya sudah lama tidak melihat makhluk kecil yang ganas menyesap darah manusia itu. Atau, jangan-jangan bangsa kepinding sudah tak lagi punya habitat. Karena bale-bale sudah ganti sofa dan kursi kayu jati berukir. Kasur sudah banyak yang berganti spring bad. Tak lagi tempat sembunyi di rajutan benang kasur. Saya sempat berpikir untuk mencari, kembali ke kampung mendiang kakek dan nenek saya. Menyambangi tetangga yang masih punya bale-bale beralas pelupuh. Tapi rasanya sulit mendapati, saya pesimis menemukan binatang kecil yang kalau dipitas, baunya menyengat tak enak dan bikin mual.

Zaman sudah berubah, karena kepinding, kutu busuk, atau bangsat, sekarang malah ada di Senayan. Di gedung wakil rakyat yang tiket untuk duduk di kursinya bisa bikin orang kere mendadak, stres, gila, dan gantung diri. Saking mahalnya…

Iklan

2 tanggapan untuk “[Bahasa] Bangsat”

  1. Mumpung, begitu Kang. Premiere time barangkali adalah pemicu mereka. Makin sering fokus rapat beralih ke congor dan mukanya, makin terkenal dia. Besok2 ramai2 orang pakai jasa bantuan hukumnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s