Sudut Pandang

[Bahasa] Kerbau


Salah satu kesukaan teman-teman saya dan keponakan bila main ke rumah saya adalah melihat sawah dan kerbau. Mahfumlah saya, karena mereka orang kota, tinggal di tengah rumah yang terus berdesak, saling menyekat, dan terus meninggi. Entah pagarnya yang semakin tak terjangkau karena semakin menjulang, atau atapnya yang terus tumbuh melebihi atap rumah sebelahnya.

Binatang bagi mereka hanya ada di Taman Margasatwa Ragunan. Di sekitar rumah mereka hanya ada kecoa, tikus, kucing, paling besar mungkin anjing. Berbeda dengan saya yang tinggal di pinggir sawah, setiap pagi bisa ketemu kerbau, bukan hanya yang sedang berkubang, atau bercengkerama dengan pemiliknya. Tapi saya bisa menjumpai kotorannya yang berceceran sepanjang jalan dekat rumah saya. Biasa saja, setidaknya buat saya.

Perihal kerbau, saya yang pernah tinggal bersama kakek dan nenek saya di kampung, punya banyak cerita. Dulu di depan rumah kakek saya, ada Kang Redja, yang memiliki sekitar lima ekor kerbau. Dari beliaulah saya memiliki pengalaman naik di punggung kerbau. Saya pernah ditegur, karena tertawa geli  akibat bulu-bulu lembutnya menggelitik kulit. Kang Redja dengan sangat baik, akan memanggil saya bila pulang menggembala kerbau lewat depan rumah kakek. Dia akan menaikkan saya ke salah satu punggung kerbaunya. Mengiringnya hingga ke kandang yang jaraknya sekitar 300 meteran. Kenangan yang indah…

Karena sering dilewati kerbau Kang Redja itulah, sepanjang pinggiran jalan, kotoran kuda berceceran. Dan, ketika bulan puasa tiba, saya sering iseng menaruh petasan di tengah-tengah kotoran kerbau yang mulai mengering. Tapi jangan salah, bagian dalamnya belum tentu kering. Saya akan menyalakan sumbu petasan yang saya tanam itu ketika teman-teman atau ada orang lewat. Saya akan tertawa puas, karena akan melihat pemandangan yang tak terduga dan sulit dicari tandingannya…

Eh, kemarin dulu saya melihat juga ada kerbau di Bundaran Hotel Indonesia. Ikut serta berdemonstrasi, meski akhirnya harus diamankan secara khusus oleh aparat kepolisian. Rupanya selain menjadi tontonan, kerbau juga menjadi simbol. Simbol kebodohan dan kemalasan dari badannya yang besar itu. Setidaknya itu yang ditafsirkan SBY dalam pertemuannya di depan para gubernur se-Indonesia di Istana Cipanas. Kok bisa begitu ya? Tak apalah siapa pun boleh memberi tafsir, boleh memberi makna. Tapi memang rasanya beda, kalau itu yang berucap seorang kepala negara dari negeri agraris, dan konon orang desa dari Tremas Pacitan yang mungkin banyak kerbau.

Tak jauh dari Pacitan, di Keraton Surakarta Hadiningrat ada seekor kerbau keramat bernama Kiai Slamet. Seekor kerbau albino atau bule yang diperlakukan melebihi manusia oleh para abdi dalemnya. Biasanya, Kiai Slamet menjadi cucuk lampah atau pimpinan rombongan dalam Kirab Pusaka 1 Sura untuk menyambut tahun baru 1 Muharam tahun Hijriyyah. Sebuah Kirab yang melibatkan banyak abdi dalem dan mengusung belasan pusaka Keraton Surakarta. Konon, saking dikeramatkannya, kotorannya pun dianggap bertuah dan bisa untuk menyembuhkan penyakit. Sehingga tak heran, bila ada pemandangan berebut kotoran Kiai Slamet.

Kerbau atau munding dalam bahasa Sunda, juga seringkali secara sekilas mengantar ingatan kita pada tokoh legendaris Si Kabayan. Sosok parodis yang cerdas. Di balik yang tampak, Kabayan adalah kecerdasan yang sangat mengagumkan. Dalam buku serial yang ditulis SH Mintaredja, buku bacaan kakek saya, yang kemudian saya turut membacanya, sang penulis, mengisahkan Mahesa Jenar – mahesa berarti kerbau yang diserap dari bahasa klasik—seorang  mantan prajurit Kasultanan Demak yang tangguh dalam mencari kembali pusaka kerajaan, keris Nagasasra dan Sabukinten. Mahesa Jenar memiliki ilmu Sasra Birawa yang didapat dari Ki Kebo Kanigara di perguruan Pengging.

Cerita kerbau kok tak ada habisnya ya… jangan kaget juga, di tempat tinggal saya, beberapa orang arisan kerbau lho. Mereka akan memotongnya ketika lebaran tiba, dan saya biasanya kebagian daging yang sudah dimasak, entah jadi empal atau menu yang lain. Ah, enaknya…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s