Sudut Pandang

[Bahasa] Resonansi


Mengakrabi seseorang, rupanya tak harus dekat secara fisik. Saat ini, dengan sekali klik, tak ada lagi jarak antara idola dan fans. Tak ada jeda antara pamong negara dengan rakyat jelata. Teknologi telah membawa kita pada suasana yang sangat dekat. Siapa saja bisa menjadi teman, kapan saja bisa bertukar senyum.

Dulu, zaman saya masih mencari jati diri. Betapa menggebu dan semangatnya, bila mendengar sang pujaan, idola, bintang kesayangan bakal ada di suatu tempat yang mendekat. Artinya, tidak lagi sulit dijangkau. Dia ada di sekitar kita, yang jarak dan ongkos ke tujuannya bisa dihitung angkanya. Terjangkau oleh kocek mahasiswa kere macam saya. Betapa norak bila mengingatnya.

Saya sempat terpesona sangat, dengan orang-orang Jombang yang bisa semeja menjadi pembicara dalam seminar di Fakultas Sastra UI sebelum berubah menjadi Fakultas Ilmu Budaya. Saya mendengar Gus Dur (alm.) bersanding dengan Prof. Simuh, ahli tasawuf dan filsafat jawa, yang sempat menjadi Rektor IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, yang kini beralih nama UIN Sunan Kalijaga. Dan tak sekadar ganti nama, orang lebih suka menyebut singkatnya, UIN Suka.

Lalu Cak Nur (Prof. DR Nurcholish Madjid) bersanding dengan Cak Nun (Emha Ainun Nadjib), bicara soal budaya, islam, dan seterusnya. Saya teringat, Azwar Anas (kini politisi PKB dan sempat menjadi anggota DPR periode 2004-2009) yang menjadi perantara terjadinya itu semua. Saya, hanya salah satu yang duduk mengangguk-angguk di antara banyak orang yang dahaga.

Tidak hanya mereka, saya pun kagum pada Asmuni! Pelawak Srimulat yang mengadopsi kumis Hitler dan akrab dengan idiom ‘hil yang mustahal’-nya. Asmuni yang bangga dengan nDiwek-nya, sebuah kecamatan di Jombang. Sungguh sangat cerdas memelesetkan rasa seram, penuh teror, dan kejamnya Hitler menjadi sangat parodis, menghibur, dan menyenanngkan. Sederhana, hanya dengan memindahkan kumis iritnya ke bawah hidungnya.

Yakinlah, kalau kumis itu masih menempel di wajah Hitler, saya jamin Anda akan sulit tersenyum apalagi tertawa. Bisa jadi, Anda akan terbirit-birit, hingga pecirit, ngacir sambil menahan kencing. Salah-salah, Anda pun akan salah masuk toilet, tulisan dan petunjuk Man dan Women, tak tampak lagi di mata, walau dibantu juga dengan gambar di sampingnya.

Mencari, awalnya adalah rasa penasaran yang terus berdengung. Pada masa mencari itulah, saya banyak sekali mengagumi orang. Tak luput pula dari menduplikasi penampilan, mengutip kata-kata dan kalimat dahsyatnya, serta mengoleksi sedemikian rupa, apa saja yang mempu mendekatkan diri saya dengan orang yang saya kagumi itu.

Dan kekaguman pada sesama, harus merona menjadi tabiat positif, bahwa saya masih harus terus menjadi. Tidak boleh berhenti. Tidak berlebihan, membabi buta, taklid semata, tak menghampiri saya, alhamdulillah. Karena, seperti kata Cak Nur ketika itu, orang tidak semuanya baik, sedemikian tidak semuanya buruk, manusia tidak ada yang sempurna. Manusia memang tidak sempurna, karena itulah, ilmu dan norma menyempurnakannya.

Banyak kalimat orang cerdik pandai dan cendekia berdengung-dengung membuat bara, menjadi angin ketika redup agar terus menyala. Menjadi air agar api tak berkobar membakar jiwa. Sulit saya mencari padanan kata yang tepat. Beresonansi barangkali. Mendengung-dengung, bergema, bergetar-getar… menggaung, memantul-mantul. Saya coba membuka lembar-lembar kitab bahasa. Lagi-lagi KBBI yang saya rujuk. Ternyata, resonansi tak hanya berarti dengungan (gema, getaran) suara. Tapi ia juga peristiwa fisika yang menunjukkan peristiwa turut bergetarnya suatu benda karena pengaruh getaran gelombang elektromagnetik luar.
Begitulah, penghayatan atas hakikat, pemaknaan atas kedalaman, terasa lebih bermakna dan terus menggema…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s